Ketua DPC PPP Kota Serang Uhen Zuhaeni saat memberikan sambutan meminta Subadri Ushuludin bersedia maju dalam Pilgub 2024 sebagai calon gubernur. “Di Pemilu 2024 besok harus nyalon Gubernur Banten. Siap ya Pak Subadri jadi gubernur?,” kata Uhen di sela-sela sambutan.
“Kiai, ustaz, PAC, ketua ranting, wakil ketua umum PPP jadi saksi yah. Takbir, Allahuakbar,” tambah Uhen seraya disambut gemuruh ratusan peserta dan undangan Muscab IV.
Hanya saja, kata Uhen, sebelum maju di Pilgub Banten 2024 meminta Subadri untuk menyelesaikan jabatan Wakil Walikota Serang sampai akhir 2023 mendatang. “Selesaikan dulu tugas wakil walikota Serang setelah itu akan kami antarkan dan doakan bersama untuk maju,” katanya.
Menanggapi hal tersebut, Ketua DPW PPP Banten Subadri Ushuludin mengatakan, perhelatan Pilgub Banten 2024 masih lama. Ia enggan berspekulasi terlebih dahulu. “Masih subuh. Udah ngomongin makan siang aja. Nantilah. Politik itu kan seni, harus melihat momentumnya nanti seperti apa,” katanya.
Menurut Subadri, dalam dunia politik rekomendasi itu bukan hal yang luar biasa, terlebih aspirasi itu disuarakan oleh kader-kader PPP di tingkat cabang dan ranting yang menginginkan ketuanya menjadi orang nomor satu di Banten. “Biasa itu mah politik. Bukan hal yang luar biasa. Karena politik itu kan dinamis, kembali lagi iya dan tidaknya nanti bagaimana dinamika yang berkembang,” katanya.
Ia juga mengucapkan terima kasih jika jajaran pengurus PPP menginginkan dirinya untuk maju pada Pilgub Banten. Tapi tentu ada mekanisme partai yang harus dilalui. “Di politik kalau asal-asalan tanpa ada perhitungan yang jelas dan matang, bisa jadi kalah. Karena politik itu kan harus melihat momentum. Kalau momennya tidak pas kita paksakan, nanti hasilnya bagaimana,” jelasnya.
Subadri mengungkapkan saat ini masih ada waktu untuk sosialisasi, merawat persatuan, silaturahmi, kekeluargaan, dan program pembangunan sebagai bentuk ikhtiar bersama untuk meningkatkan suara partai di Pileg nanti. “Itu yang menjadi kewajiban saya sebagai ketua DPW PPP. Setelah hasil dari ikhtiar itu ada, maka itu yang akan menjadi pertimbangan apakah nanti bisa mengusung calon sendiri atau berkoalisi dengan partai lain,” katanya.
Menurutnya, perjalanan politik itu akhirnya kepentingan dan pengabdian. Mau gubernur atau walikota, kembali lagi ke niatan awal. Memang tidak ada salahnya jadi wakil, kalau niatan untuk mengabdi. “Yang terpenting itu dukungan dari masyarakat. Karena sebagus apa pun program kita kalau tidak didukung oleh masyarakat tentu tidak bisa,” terangnya. (fdr/alt)











