Padahal, Yuni sendiri tak kalah rupawan, ia gadis primadona desa, banyak lelaki mengantre melamarnya. Meski hanya tamatan SMA, tapi Yuni seperti perempuan berpendidikan, penampilannya rapi, gaya bicaranya juga luwes dan lumayan berwawasan.
Hingga akhirnya Tole nekat datang ke rumah Yuni bersama keluarga. Keluarga Yuni pun tak bisa menolak, lamaran pun terjadi. Mereka menikah tiga bulan kemudian dengan pesta meriah.
Yuni langsung diboyong Tole ke rumah pribadinya, mereka menjalani rumah tangga dengan bahagia. Apalagi setahun kemudian langsung dikaruniai anak pertama, membuat hubungan mereka semakin harmonis.
Tapi setahun hidup bersama, Yuni mengaku sangat jarang keluar rumah untuk bersosialisasi dengan tetangga dan warga. Bahkan main ke rumah keluarga pun hanya sebulan sekali, padahal jaraknya tak terlalu jauh. “Kang Toleh ngelarang saya keluar rumah, kalau mau main ke keluarga juga harus bareng sama dia, sedangkan dia tiap hari sibuk terus,” katanya.
Bukan hanya itu, Yuni juga dilarang membeli pakaian-pakaian kesukaan seperti kaos atau kemeja, pergi ke mal juga tidak boleh. Padahal ia memegang uang lumayan banyak dari Tole.
Itu larangan yang tidak boleh dilakukan di luar rumah, belum lagi aturan di dalam rumah, Yuni tidak boleh tidur di atas jam 11 malam, tidak boleh bangun kesiangan, tidak boleh makan pedes. “Saya tuh capek, dilarang-larang terus,” katanya.











