TANGERANG – Enam puluh pedagang di Pasar Anyar telah bangkrut. Pandemi Covid-19 membuat mereka kehabisan modal dagang.
Kepala Pasar Anyar Ahmad Juhaeini membenarkan, ada 60 pedagang di Pasar Anyar yang tidak lagi bisa berjualan. Para pedagang itu kehabisan modal dan barang dagangannya tidak laku.
“Pedagang yang bangkrut mayoritas dari pedagang pakaian, mereka sudah tidak berjualan di kios di Pasar Anyar. Bahkan, kios mereka sudah tutup sejak awal tahun,” jelas Ahmad Juhaeini saat ditemui Tangerang Ekspres (grup Radar Banten) di Pasar Anyar, Senin (11/10).
Dia menyampaikan, ada sekitar 1.200 pedagang yang menyewa kios di Pasar Anyar. Akan tetapi, seiring berjalannya waktu, jumlah pedagang berkurang. Para pedagang bangkrut juga disebabkan omzet yang menurun lantaran sepi pembeli, karena selama pandemi tidak boleh berkerumun.
“Saya tidak tahu, apakah mereka berjualan di tempat lain atau tidak. Tetapi, beberapa kali kami hubungi mereka sudah tidak lagi berjualan karena kehabisan modal,” paparnya.
Juhaeini menjelaskan bahwa Pemkot Tangerang sempat menawarkan bantuan kepada para pedagang yang mengalami penurunan omzet. Bantuan yang ditawarkan berbentuk pinjaman melalui bank. Namun, banyak pedagang yang menolak dan memilih untuk menutup tokonya.
“Para pedagang tidak mau (meminjam bank-red), mereka juga takut kehilangan asetnya kalau pinjam ke bank. Belum lagi situasi pandemi ini belum pasti berakhirnya sampai kapan,” ungkapnya.
Salah satu pedagang sayur di Pasar Anyar, Kuncoro, menuturkan bahwa selama pandemi Covid-19, penjualannya sempat berkurang. Bahkan, pasar sempat sepi karena pembelinya tidak ada.
“Kalau saya masih berjualan walau sepi. (Pedagang-red) di depan saya dan pedagang kios lainnya sudah tutup dari beberapa bulan lalu. Alasannya, katanya sepi. Tapi sekarang sudah landai, sudah banyak pembeli yang datang,” ujarnya. (ran/don)











