SERANG, RADARBANTEN.CO.ID – Anggota DPRD Banten, Anton Haerul Samsi, menilai, regenerasi petani dan modernisasi pertanian menjadi faktor penting dalam menjaga ketahanan pangan sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani di Provinsi Banten.
Menurut Anton, perkembangan teknologi pertanian harus terus didorong agar produktivitas petani meningkat dan mampu menjawab tantangan keterbatasan tenaga kerja di sektor pertanian.
“Teknologi pertanian itu sangat penting. Bagaimana kita bisa bergerak lebih cepat dan lebih efisien. Kalau panen menggunakan mesin combine harvester, satu hektare sawah bisa selesai hanya dalam waktu sekitar dua jam,” kata Anton, Minggu, 21 Juni 2026.
Ia menjelaskan, penggunaan alat dan mesin pertanian modern terbukti mampu memangkas biaya produksi sekaligus mempercepat proses panen. Berbeda dengan cara tradisional yang membutuhkan banyak tenaga kerja dan waktu lebih lama.
Selain alat panen, Anton juga menilai modernisasi harus dilakukan secara menyeluruh, mulai dari proses budidaya, pengeringan hasil panen hingga pengolahan pascapanen.
“Kalau hasil panen sudah dikeringkan menggunakan teknologi yang baik, nilai jualnya juga lebih tinggi dibanding dijual dalam kondisi basah,” ujarnya.
Regenerasi Petani Harus Dipercepat
Di sisi lain, Anton mengakui, regenerasi petani menjadi pekerjaan rumah besar yang harus segera diselesaikan. Menurutnya, sebagian besar petani saat ini sudah berusia lanjut sehingga perlu ada upaya menarik minat generasi muda untuk terjun ke sektor pertanian.
Ia optimistis, generasi muda, khususnya Generasi Z, lebih mudah menerima perkembangan teknologi pertanian dibanding generasi sebelumnya.
“Kalau generasi muda sekarang sebenarnya lebih cepat beradaptasi dengan teknologi. Tinggal bagaimana pemerintah dan semua pihak memberikan dukungan agar mereka tertarik masuk ke sektor pertanian,” kata anggota Fraksi Golkar itu.
Menurut Anton, citra pertanian yang selama ini dianggap identik dengan pekerjaan berat harus mulai diubah. Pertanian modern justru menawarkan peluang usaha yang menjanjikan apabila dikelola secara profesional.
Anton berharap, keikutsertaan Kontingen Banten dalam PENAS KTNA XVII di Gorontalo tidak hanya menjadi ajang silaturahmi antarpetani dan nelayan dari seluruh Indonesia, tetapi juga menjadi sarana transfer pengetahuan dan teknologi.
Menurutnya, berbagai inovasi yang ditemukan selama kegiatan tersebut harus dibawa pulang dan diterapkan di Banten guna meningkatkan produktivitas sektor pertanian dan perikanan.
“Kalau ada teknologi yang bagus dan belum diterapkan di Banten, tentu harus kita pelajari dan aplikasikan di daerah kita. Itu yang paling penting dari kegiatan seperti PENAS KTNA,” ujarnya.
Anton optimistis dengan dukungan teknologi, perbaikan infrastruktur, serta keterlibatan generasi muda, sektor pertanian Banten akan semakin maju dan mampu meningkatkan kontribusinya terhadap ketahanan pangan nasional.
Editor: Agus Priwandono











