Jaja sendiri termasuk lelaki gagah. Meski wajahnya tak terlalu tampan, namun postur tubuhnya yang kekar dan ideal, dengan kulit cokelat dan tampak otot-ototnya, Jaja berpenampilan macho.
Hubungan pertemanan mereka semakin dekat sampai akhirnya jadian. Tapi, lantaran status Jaja masih sebagai pengangguran, ayah Noni menunjukkan sikap cuek padanya. “Kesel banget digituin, tapi untungnya saya langsung dapet kerja jadi distributor pabrik aqua,” katanya.
Sebulan kemudian, Jaja pun melamar Noni. Pesta pernikahan pun berlangsung sebulan kemudian. Hanya mengundang saudara dan tetangga, mereka tampak bahagia.
Keduanya tinggal di rumah mempelai wanita. Setahun kemudian mereka dikaruniai anak. Membuat hubungan keduanya semakin mesra. Jaja pun semakin semangat bekerja.
Hingga suatu hari, desakan ekonomi menambah keruh suasana rumah. Setiap Jaja pulang kerja, Noni sering ngeluh soal uang yang tak mencukupi, membuat Jaja tertekan dan tak betah di rumah.











