Tapi, ya ibarat kucing dikasih ikan teri, saat berkenalan dan mendapat kesan baik dari sang janda, Jaja jadi ketagihan dan malah sering berkunjung menemui. Apalah daya, sejak saat itu, Jaja pun memutar otak membagi penghasilan. Tapi, meski dibuat pusing menafkahi dua cinta, Jaja merasa bahagia karena sang janda memberi perhatian lebih. “Waktu itu dia kasih saya parfum, wanginya enak banget,” ungkap Jaja.
Sejak saat itu, Jaja pun selalu harum. Berangkat kerja pakai parfum, pulang kerja juga selalu harum. Tapi tak disangka, lantaran harum parfum Jaja yang berlebihan, hal itu justru membuat sang istri timbul kecurigaan. Tapi hebatnya, dengan sandiwara tingkat dewa, setiap pertanyaan Junah bernada curiga tentang parfum, mampu diselesaikan Jaja dengan mudah. “Ya saya sih biasa saja. Saya jawab, kan ini supaya kamu nyaman sama aku,” kata Jaja mencontohkan ucapannya kepada Noni sambil cekikikan.
Namun apalah daya, pada akhirnya kebohongan pun terbongkar juga. Jaja tak bisa menolak keinginan sang janda yang ingin ikut narik angkot. Di tengah perjalanan, layaknya suami istri, sang janda begitu perhatian pada Jaja yang tengah menyetir mobil. Mengelap keringat di dahi, memberi minum, dan menyalakan rokok di mulut, keduanya seolah tengah membawa mobil pribadi.
Tapi apesnya, suatu ketika ada tetangga Jaja yang naik ke angkotnya. Jaja mulai merasa tak nyaman. Parahnya, hal itu tak disadari sang janda. Ya sudah, terbongkarlah rahasia hitam perselingkuhan Jaja. Sepulang ke rumah, Noni langsung mengamuk. Sebulan kemudian, keduanya pun resmi bercerai.
Astaga, lagian Kang Jaja ada-ada saja, sudah susah malah selingkuh, ya tambah susah. (drp/air)











