Kata dia, Indonesia menjadi tempat pertemuan empat lempeng raksasa dunia sehingga rawan gempa dan tsunami. Banten sendiri berhadapan dengan segmen subduksi Indo-Australia yang berpotensi memiliki magnitudo maksimum 8,7. Dengan sumber gempa di zona subduksi, hampir seluruh wilayah Banten akan terdampak guncangan sekira tujuh sampai sembilan magnitudo. “Magnitudo itu kekuatan gempa yang dikeluarkan dari sumber gempanya. Semakin dekat sumber gempa, dampaknya semakin besar,” jelas Suci.
Ia mengatakan, BMKG sudah membuat perkiraan industri yang terdampak gempa bumi dan tsunami. Pihaknya juga menyiapkan beberapa alternatif tempat evakuasi yang direkomendasi.
Namun, lanjutnya, ada juga potensi bahaya yang bisa ikut terjadi apabila gempa bumi dan tsunami terjadi dalam kawasan industri, yaitu kebakaran, ledakan, sebaran zat beracun, dan tumpahan minyak. Untuk itu, perlu kesiapsiagaan menghadapi gempa bumi dan tsunami. Misalnya saja sistem komunikasi yang baik, pelatihan dan pendidikan untuk memahami prosedur darurat, serta tindaklanjut dan komunikasi secara teratur antara instansi pemerintah dan industri untuk memastikan ketersediaan peralatan darurat.
Sementara itu, akademisi Institut Teknologi Bandung, Harkunti Rayahu mengatakan, di saat pandemi Covid-19 saat ini, pemerintah daerah harus menyiapkan tempat evakuasi yang juga memenuhi standar protokol kesehatan agar tidak terjadi penyebaran Covid-19 di tempat-tempat penampungan korban bencana. “Ini tentu menjadi perhatian khusus agar tidak terjadi klaster penyebaran baru,” ujarnya.











