“Kalau dipaksakan digunakan maka akan membahayakan siswa dan para guru. Karena itu, kami memutuskan tidak menggunakan bangunan madrasah tersebut,” ungkapnya.
Untuk itu, dia berharap ada uluran tangan dari Kementerian Agama (Kemenag) maupun Pemerintah Kabupaten Lebak. Jika hanya mengandalkan dana dari Bantuan Operasional Sekolah (BOS) maka tidak akan maksimal. Ditambah lagi, peruntukan dana BOS untuk operasional madrasah, bukan untuk pembangunan. Tapi, kalau hanya pemeliharaan bangunan, mungkin masih bisa dialokasikan.
“Mudah-mudahan, ada yang peduli terhadap madrasah kami. Karena, kami pun ikut berkontribusi dalam mencerdaskan generasi muda di daerah,” jelasnya.
Tenaga pendidik MTs Ar-Ribathiyah lainnya, Farihah Aini membenarkan, tiga ruang madrasah yang tiap hari digunakan KBM para siswa rusak berat setelah diterjang longsor. Saat ini, ada kurang lebih 351 orang siswa yang belajar di MTs Ar-Ribathiyah. Mereka berasal dari beberapa desa di Kecamatan Cikulur.
“Sekarang, kita kekurangan dua ruangan untuk belajar. Karena itu, dua rombongan belajar itu diungsikan dan belajar bergantian di ruang kelas yang lain,” katanya.
Dia menambahkan, pihak madrasah akan berupaya maksimal agar para siswa di MTs Ar-Ribathiyah mendapatkan materi pembelajaran yang maksimal. “Saya dan para guru meminta kepada anak-anak untuk tetap semangat dalam belajar. Walaupun, ruang belajar digunakan sebagai bergiliran, karena dua ruang belajar yang selama ini digunakan kondisinya rusak berat,” tegasnya.(tur)











