Pada LKBA tahun depan, Tatu meminta para kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD) melakukan singkronasi program dengan LKBA. Hal ini dilakukan agar terjadinya sinergitas yang maksimal, tidak hanya warga di 326 desa saja yang menata lingkungan, tapi juga ada program dari dinas yang masuk, misalnya pemberdayaan pekarangan oleh Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan (DKPP), program pengolahan sampah oleh Dinas Lingkungan Hidup (DLH) dan lainnya.
“Tujuannya agar semakin banyak kampung yang berpotensi menjadi wisata desa,” tuturnya.

Hal sama disampaikan Direktur Radar Banten dan BantenTV Mashudi yang menilai, perhelatan LKBA bakal semakin semarak jika OPD terkait melakukan singkroniasi program. Salah satu persoalan yang masih menjadi PR besar ialah sampah, hal itu terjadi lantaran belum dikelola secara maksimal. “DLH bisa melakukan pembinaan terkait pengolahan sampah kepada masyarakat, sehingga nanti bisa dilihat dampaknya saat penilaian LKBA,” serunya.
Mashudi melanjutkan, sampah bisa menjadi bisnis masa depan yang sangat luar biasa kalau bisa dikelola. Dari sampah, bisa memicu pergerakan roda perekonomian warga. Contohnya pengolahan sampah organik menjadi pupuk kandang, pengolahan sampah bekas kemasan menjadi kerajinan tangan. “Kalau hal ini bisa terwujud, maka nanti masyarakat menjadi mandiri, baik secara ekonomi maupun kebersihan dan keamanan lingkungan,” tukasnya.











