Dalam waktu satu bulan, peningkatan kasus konfirmasi Covid-19 di Banten luar biasa. Untuk itu, masyarakat perlu melakukan antisipasi dan tetap waspada.
Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Banten dr Ati Pramudji Hastuti mengatakan, apapun varian di dalam Covid-19, baik delta, omicron, atau pun lainnya, tapi prinsip penanggulangan dan penanganan kasus memutus rantai sama. “Selalu disiplin prokes dengan 6 M (memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak, menghindari kerumunan, mengurangi mobilitas, dan mendapatkan vaksin-red),” ujar Ati.
Selain itu, para tenaga kesehatan harus terus melakukan aktivitas tracing dan testing secara massif kepada orang-orang yang kontak erat dengan kasus positif, suspect, dan sebagainya. Tingginya kasus konfirmasi Covid-19 saat ini karena masifnya screening yang dilakukan para tenaga kesehatan terhadap orang-orang yang memiliki risiko tinggi terhadap penyebaran kasus.
“Saat ini, trennya kasusnya pada usia produktif dan anak,” ungkapnya.Dari delapan kabupaten/kota di Banten, wilayah Tangerang Raya penyumbang kasus Covid-19 tertinggi. Namun begitu, tidak satu satupun daerah di Banten yang bebas Covid-19.
Meskipun begitu, untuk bisa mengetahui varian omicron atau pun yang lainnya, maka harus dilakukan tiga tahapan pemeriksaa. Pertama, PCR. Apabila PCR positif, maka harus dilakukan pemeriksaan lanjutan yaitu SGTF. Ketika SGTF positif, baru dilakukan pemeriksaan lanjutan yaitu WGS. “Dari pemeriksaan WGS akan diketahui varian apa,” terang Ati.
Walaupun begitu, Ati menegaskan, apapun variannya, konsep pengobatan dan pencegahan tetap sama. “Masyarakat tidak boleh bosan dan malas menjaga protokol kesehatan. Siapapun, kapanpun, dan dimanapun berada,” tegasnya.
Kata dia, protokol kesehatan adalah satu-satunya yang bisa menjaga dari Covid-19 selain vaksinasi. Walaupun vaksinasi tidak bisa mencegah, tapi bisa menurunkan dan meringankan gejala ketika seseorang terkena Covid-19 dan menurunkan angka kematian akibat Covid-19. (*)











