Aopidi yang baru dua tahun menjabat sebagai kepala desa (Kades) Kadugenep ini, mulai menyusun rencana. Para pengrajin tas di desanya harus mendapatkan pendidikan tentang UMKM terlebih dulu sebelum terbentuk desa wisata. Terkait manajemen, mutu dan lainnya. Juga tentang pemasaran online. “Para pengrajin harus paham pemasaran online itu apa? Karena sekarang eranya sudah online. Semua produk dipasarkan melalui online,” kata bapak berputra satu ini.
Saat bertemu dengan wartawan Radar Banten di Kantor Desa Kadugenep, pria kelahiran 1971 ini mengungkapkan unek-uneknya. Minta agar jalan kabupaten yang melintas di desanya diberitakan. Tujuannya agar mendapat respon dari dinas terkait. Dan, benar saja. Uneg-uneg HM Aopidi langsung mendapat tanggapan Dinas PUTR Kabupaten Serang.
Dirinya yakin, jika insfrastuktur sudah bagus, idenya menjadikan Kadugenep sebagai Desa Wisata Edukasi UMKM bakal terwujud. Aopidi berjanji akan merangkul seluruh pengrajin tas yang selama ini belum mempunyai wadah/asosiasi resmi. Ia bersama tokoh masyarakat bakal membentuk asosiasi pengrajin tas. Dengan adanya asosiasi, dirinya yakin, kerajinan tas di desanya yang merupakan mata pencaharian bagi 80 persen warganya bakal maju. Tidak ada lagi persaingan harga, yang justru akan mematikan pengrajin lainnya.
Sepengetahuannya, selama ini pengrajin tas di desanya banyak yang jalan sendiri-sendiri. Padahal, dinas terkait sudah membangun showroom yang cukup bagus. Namun, showroom itu belum berfungsi maksimal. Karena tidak dikelola dengan manajemen yang baik. “Dengan adanya wadah asosiasi, mudah-mudahan para pengrajin bisa bersatu. Bisa mencari solusi jika ada masalah. Sehingga tidak ada ego masing-masing. Kecuali untuk kemajuan bersama,” kata Aopidi yang saat berbincang dengan Radar Banten didampingi Kades Tunjung Teja, Endang Mubarok. Ini adalah pertemuan kedua dengan Radar Banten terkait keseriusannya mewujudkan Desa Kadugenep menjadi Desa Wisata yang tertata insfrastrukturnya dan maju masyarakatnya.
GANDENG PERGURUAN TINGGI
Agar konsep Desa Wisata Edukasi UMKM tidak salah arah, Pak Haji, salah satu panggilan akrab HM Aopidi, bakal menggandeng Universitas Indonesia Esa Unggul, Jakarta Barat. Apalagi, akhir tahun lalu para mahasiswa Universitas Indonesia Esa Unggul mengunjungi Desa Kadugenep. Untuk mengetahui lebih dekat keberadaan kerajinan tas, sekaligus melakukan semacam penelitian. “Saya nanti minta Universitas Indonesia Esa Unggul bisa memberikan masukan berharga untuk suksesnya Desa Wisata,” harap Aopidi.











