Ada kondisi di mana kita tidak bisa mengandalkan pengalaman, karena masalah yang kita jumpai kali ini benar-benar baru, maka yang bisa kita andalkan adalah akal dan ilmu pengetahuan.
Namun dalam kondisi ini, bahkan memikirkan skenario selamat yang dihubungkan dengan semua ilmu fisika yang kudapatkan hingga program doktoral ini pun juga sulit.
Aku harus menenangkan diri. Mengabaikan diriku yang sedang jatuh untuk berpikir sejenak bagaimana caranya aku bisa selamat. Aku merenggangkan tanganku, membentuk simbol penyerahan diri.
Lalu menekuk lututku kebelakang –persis meniru apa yang kubayangkan dalam praktik orang terjun bebas. Tadinya, tubuhku yang terpontang-panting sekarang bisa sedikit stabil, sekilas aku menemukan penjelasan tentang kondisi ini dalam sub pembahasan aerodinamika.
Lalu sekarang apa? Aku pun harus mencari tempat mendarat yang bisa membuatku selamat. Laut dan perairan bukanlah pilihan yang tepat. Jatuh dari ketinggian seperti ini ke air, efeknya akan sama dengan jatuh ke permukaan tanah yang keras.
Bisa membuat tubuhku hancur seketika. Opsinya adalah mencari lahan hijau berpohon tinggi atau tanah yang mempunyai rerumputan tinggi, minimal bisa meraih dahan atau jatuh di atas rerumputan tinggi untuk meredam sedikit momentum, meskipun harus berkorban banyak tulang tubuhku yang akan patah dan resiko lumpuh seumur hidup. Di atas area Surabaya yang berdataran rendah, tentu ini mimpi buruk.
Apa aku harus menjatuhkan diri di atas hutan kota? Akhirnya aku berusaha mengarahkan tubuhku ini ke titik hijau salah satu sudut kota terdekat. Dengan prinsip gerak aerodinamis ditambah dengan naluri, aku menggerakkan tubuhku ke arah selatan, ternyata berhasil mengarahkan tubuhku kesana.
Aku tidak tahu apakah titik hijau yang terlihat dari ketinggian ini lokasi berumput dan berpohon tinggi. Tidak terlalu jelas, karena pandanganku kabur tertumbuk angin yang sangat deras. Hanya tempat itu saja yang berwarna hijau, sisanya aku yakin hanyalah hutan beton atau hanya sekedar tanaman penghias trotoar bahu jalan.











