Tiba-tiba saja pikiranku dihinggapi bayang-bayang kematian yang luar biasa menakutkan, bagaimana jika perhitunganku salah? Bagaimana jika akhirnya aku tewas?
Cukup beruntung jika langsung tewas tanpa merasa sakit, tapi apakah mungkin begitu? Mati adalah keniscayaan, tetapi bukan sama dengan menghilangkan penderitaannya. Sang Rasul saja, sebagai kekasih Tuhan, mengakui bahwa sakaratul maut adalah urusan yang teramat sangat menyakitkan bagi manusia.
Ah, beliau sudah dijamin masuk Surga. Aku? Apa jaminan aku bisa masuk Surga, aku belum cukup yakin dengan amalanku.
Tapi, apakah memang akhirat itu ada? Apakah Surga-Neraka itu ada? bodoh sekali aku mempertanyakan ini dalam detik-detik menjelang kematianku.
Aku tidak yakin pertanyaan ini ada karena aku benar-benar ingin mempertanyakan atau hanya ingin menghibur diri, bahwa setelah aku mati, tidak akan ada peristiwa lagi terjadi.
Aku tidak cukup yakin bisa masuk Surga, maka alternatif yang lebih baik daripada Neraka adalah setelah kematian tidak terjadi apa-apa.
Sejenak mengambil asumsi bahwa tidak ada kehidupan setelah kematian ini bisa menurunkan kadar ketakutanku, abai terhadap amalan-amalan perbuatanku sebelumnya, menganggap hal itu telah selesai hanya di dunia, entah itu amalan terburuk sekalipun.
Tunggu, jika aku menganggap tidak ada Surga dan Neraka, apakah Tuhan juga tidak eksis di atas sana?











