Itulah salah satu faktor yang menyebabkan beberapa media online gagal. Kalau kita baru bikin (media digital-red) lalu berharap bisa dapat uang, faktanya tak semudah itu.
“Harus melalui tahapan indexing google dulu. Dan, itu prosesnya juga tak sebentar,” lanjut ayah dua anak ini.
Dan, yang juga penting, media online harus bisa menjawab apa kebutuhan informasi pembacanya. Misalnya, kecenderungan kaum milenial saat ini, membutuhkan berita atau info yang tidak berat alias light.
Intinya, kita harus dapat menyelami apa kebutuhan pangsa pasar. Mereka maunya apa.
Kadang apa yang kita pikirkan akan dibaca, justru malah tidak dibaca. Kalau sudah begini, jangan menjadikan kita egois.
Radar Banten awalnya tahun 2000, menggeluti bisnis media cetak alias koran. Lalu mendirikan perusahaan percetakan. Selanjutnya berkembang, mendirikan dua anak perusahaan koran. Pertama di Kota Cilegon, yakni Banten Raya. Satu lagi, di Tangerang yakni koran Tangerang Ekspres.
Seiring adanya perubahan kebiasaan membaca, akhirnya Radar Banten berinovasi mendirikan media online radarbanten.co.id. Juga mendirikan perusahaan pertelevisian yakni Banten TV yang berbasis digital dan streaming.
Bahkan kini mulai merambah sampai di luar core bisnis lainnya. Seperti, even organizer yakni Radar Banten Promosindo. Juga, mengembangkan penyedia jasa layanan informasi teknologi. Dan, yang terbaru mulai menekuni bisnis tour and travel. (*)
Reporter: Agung S Pambudi











