SERANG, RADARBANTEN.CO.ID – Berdasarkan data Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Provinsi Banten, jumlah perusahaan di Banten tahun 2020 sekira 31 ribu unit. Namun, tahun ini menurun menjadi 28 ribu perusahaan.
Kepala Disnakertrans Provinsi Banten Septo, Kalnadi mengatakan, jumlah perusahaan yang ada di Banten berkurang. “Ada penurunan sampai tiga ribu,” ujar Septo di ruang kerjanya, Kamis (30/6).
Septo mengatakan, menurunnya angka perusahaan yang ada di Banten disebabkan beberapa faktor. Pertama akibat pandemi Covid-19 yang membuat sejumlah perusahaan gulung tikar. Kedua, ada fenomena relokasi ke daerah lain.
“Ada fenomena itu, pindah ke daerah lain yang UMK-nya lebih rendah,” ujarnya. Apalagi, UMK di sejumlah kabupaten/kota di Banten termasuk tertinggi di Indonesia. Misalnya saja Kota Cilegon dan Tangerang Raya. Dampaknya kabupaten/kota yang lainnya juga menyesuaikan agar tak terjadi gap yang tinggi.
Kata dia, menurunnya jumlah perusahaan yang ada di Banten tentu berdampak terhadap meningkatnya angka pengangguran. Apabila dalam satu perusahaan saja ada 20 pekerja, maka ada 60 ribu pekerja yang terdampak.
Ia mengatakan, tingkat pengangguran terbuka di Banten bertambah bukan hanya faktor adanya perusahaan yang tutup. Misalnya saja karena Banten daerah penyangga DKI Jakarta, maka banyak masyarakat pendatang yang berdomisili di Tangerang Raya.
Namun, Septo melanjutkan, apabila pengembangan wilayah Banten bagian selatan dilakukan, maka akan tumbuh daerah industri baru. “Bisa saja perusahaan yang tutup atau pindah ke daerah lain akan buka di Cileles (Kabupaten Lebak-red),” ujarnya.











