Kini, Furqon melalui Yayasan sudah menerbitkan berbagai buku tentang braille dan mengajari ratusan anak diberbagai daerah dari ujung kepulawan Aceh hingga Jabodetabek.
Sementara, Saskia (16) remaja tunanetra asal Kecamatan Maja yang mengikuti pembelajaran membaca braille mengaku sangat antusias ketika mendapatkan informasi terkait pelatihan itu.
Ia yang sudah kehilangan indra penglihatan sejak umur 8 tahun akibat sebuah penyakit yang dideritanya itu mempunyai cita-cita untuk menjadi seorang Ustadzah.
“Seneng pa bisa belajar baca Al-Qur’an, karena saya sendiri ingin jadi ustadzah dan guru,” kata Saskia.
Ia kini tengah menjalani bangku pendidikan di kelas 2 SMA khusus. Ia juga berencana untuk terus melanjutkan pendidikannya hingga bangku kuliah.
“Saya pengen jadi guru, pengen jadi orang yang berguna bagi orang lain. Dan disini juga saya senang bisa belajar, karena selain mendapat ilmu juga bisa mendapat teman-teman baru sesama penyandang tuna netra,” ujarnya.
Serupa dengan Saskia, Saroh juga begitu semangat untuk belajar, bahkan dia enggan pulang dari Masjid Agung karena ingin terus belajar. Tapi karena tidak ada pendamping saat malam hari, Saroh akhirnya ikut pulang ke rumah Saskia di Maja untuk belajar bersama.
“Tadinya mau nginap di sini, karena besok masih belajar lagi,” kata dia.
Reporter: Yusuf Permana
Editor: Ahmad Lutfi











