Ia menerangkan, sekolahnya kini hanya memiliki tiga ruang kelas yang masih layak digunakan untuk pelaksanaan KBM. Ketiga ruangan itu tentunya tidak bisa menampung siswa-siswinya yang berjumlah 216 orang.
Untuk itu, pihak sekolah pun terpaksa menerapkan sistem KBM secara bergilir pada pagi dan siang hari. “Jadi, untuk sementara siswa belajar bergantian ada yang masuknya pagi dan ada yang masuknya siang,” ucapnya.
Mujan mengaku sudah melaporkan kondisi sekolahnya kepada Bupati Iti Octavia Jayabaya melalui Dinas Pendidikan Kabupaten Lebak.
“Kita sudah ajukan pada 2021. Tapi hingga kini belum ada kelanjutan dari Dinas Pendidikan. Kita hanya berharap, pihak Dinas bisa membantu memperbaiki sekolah yang menampung ratusan anak Cikulur,” harapnya.
Dihubungi terpisah, Kepala Dinas Pendidikan Lebak Wawan Ruswandi mengatakan, pihaknya sudah memasukan SDN 3 Muncangkopong ke dalam Dapodik dan perbaikan bangunan sekolah direncanakan akan dilakukan pada 2023.
“Awalnya data pada Dapodik nggak sesuai. Tapi sudah dibetulkan untuk diperbaiki pada 2023. Jadi sekolah ini akan menjadi prioritas rehab,” pungkasnya. (mg-02-nce/tur)











