“Biasanya hanya dijual segar dengan harga murah, diolah menjadi ikan asin, pakan ternak, atau dibuang ketika tidak bisa mengolah atau harga anjlok,” tambahnya.
Hal ini diperparah dengan pandemi covid-19 yang berlarut-larut yang menyebabkan permintaan dan harga ikan menjadi fluktuatif.
Menurut Ririn, pemanfaatan ikan HTS menjadi produk olahan ikan akan meningkatkan nilai tambah (added value), membuka lapangan kerja baru, menumbuhkan pusat aktivitas ekonomi perikanan, menghasilkan produk berkualitas serta memiliki peluang pemasaran tinggi.

Keterlibatan kelompok wanita nelayan akan meningkatkan peran serta masyarakat dalam mengembangkan sentra pengolahan ikan. Hal ini sejalan dengan prinsip industrialisasi perikanan tangkap yang dilakukan melalui transformasi teknologi dan sosial untuk merubah paradigma pemanfaatan sumberdaya perikanan dengan tujuan akhir meningkatkan kesejahteraan masyarakat nelayan.
“Wanita (istri) Nelayan di Karangantu umumnya selain menjadi ibu rumah tangga, juga membantu pekerjaan suami seperti memperbaiki jaring dan memilah ikan hasil tangkapan. Ada pula yang berjualan, namun jumlahnya sangat terbatas,” tuturnya.










