Sebagai bentuk kekecewaan mahasiswa, lanjut Zidan, Aliansi BEM Banten Bersatu sengaja membawa 150 peluit dan rapor merah secara simbolik untuk Pj Gubernur, sebagai peringatan agar jangan offside memimpin Banten dalam triwulan kedua.
“Triwulan pertama kinerja Pak Al Muktabar masih jauh dari harapan masyarakat, lantaran gagal menghadirkan solusi untuk persoalan-persoalan yang membebani warga saat ini pasca pandemi Covid-19,” tuturnya.
Kebijakan yang diambil Pj Gubernur, tambah Zidan, banyak yang tidak dipahami masyarakat sehingga hanya menimbulkan polemik. Ia mencontohkan soal tata kelola pendidikan SMA/SMK yang jadi kewenangan pemerintah provinsi.
“Gagasan terkait sekolah metaverse misalnya, itu bagi kami inovasi yang tidak terukur dan bukan solusi. Padahal masalah pendidikan kita hari ini adalah daya tampung sekolah negeri yang digratiskan Pemprov idak sebanding dengan lulusan SLTP. Sementara keberadaan sekolah swasta kurang mendapat perhatian dari Pemprov Banten,” bebernya.
Persoalan lainnya terkait tingginya angka kemiskinan dan pengangguran. Masyarakat Banten sangat menunggu apa kebijakan Pj Gubernur dalam menekan angka kemiskinan dan pengangguran.
“Misalnya kebijakan soal membuka lapangan kerja yang ditunggu masyarakat tidak ada, malah sibuk memikirkan program menekan inflasi yang sudah jelas itu tanggungjawab pemerintah daerah siapa pun kepala daerahnya,” urainya.
Hal lain yang jadi sorotan mahasiswa terkait persoalan kesehatan, terutama program penanggulangan dan pencegahan stunting.











