Tim PKM Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta) yang diketuai Dr. Ririn Irnawati, S.Pi., M.Si (Dosen Prodi Ilmu Perikanan), dan anggota Dini Surilayani, S,Pi., MP (Dosen Prodi Ilmu Perikanan) kembali mengadakan pembinaan dan sosialisasi alat dan metode pengasapan ikan kepada kelompok pengolah dan pemasar (Poklahsar) Dikranusa yang bertempat di Kelurahan Banten, Kecamatan Kasemen, Kota Serang, Selasa (30/8)
Kegiatan PKM ini merupakan rangkaian lanjutan kegiatan dengan mengangkat tema “Pemberdayaan Kelompok Wanita Nelayan Melalui Pemanfaatan Ikan HTS Untuk Meningkatkan Perekonomian Keluarga di Masa Pandemi Covid-19 di Kota Serang”.

Dalam sambutannya, Ketua Tim PKM Ririn Irnawati mengatakan, latar belakang pengabdian ini adalah imbas dari pandemi Covid-19, yang membawa perubahan pada kehidupan masyarakat, terutama sektor perekonomian.
“Tim PKM akan terus melakukan pendampingan kepada Poklahsar Dikranusa mulai dari proses pengolahan, pengemasan, pelabelan dan pemasaran produk,” tuturnya.
Ririn berharap kegiatan ini menjadi salah satu usaha kelompok dalam meningkatkan ekonomi keluarga sekaligus meningkatkan peran serta masyarakat wanita dalam mengembangkan sentra pengolahan ikan.
“Sosialisasi pengenalan alat dan metode pengasapan pada Poklahsar Dikranusa diharapkan dapat membuka lapangan kerja baru, menumbuhkan pusat aktivitas ekonomi perikanan, menghasilkan produk berkualitas serta memiliki peluang pemasaran tinggi. Semoga suatu saat hasil ikan asap pokhlasar Dikranusa dapat menjadi salah satu oleh-oleh khas Karangantu dan Banten,” harapnya.
Kegiatan dilanjutkan pada persiapan proses pengasapan ikan. Dimulai dari membersihkan ikan dan memanaskan alat pengasapan, sebagai sumber api digunakan tempurung kelapa. Proses pengasapan dan pengamatan dilakukan selama kurang lebih 2 jam sampai ikan benar-benar matang dan kering sempurna.

Pada sesi pembinaan, Dini Surilayani mengatakan, pengasapan merupakan salah satu metode yang dapat digunakan dalam pengawetan ikan.
“Prinsip dasar pengawetan ini dilakukan dengan mengurangi kadar air yang ada pada ikan, sehingga dapat memperpanjang masa simpan. Metode pengasapan memiliki kekhasan pada aroma dan warna ikan hasil pengasapannya,” ucapnya.
Pada metode pengasapan ikan tidak dipanaskan dengan api secara langsung, melainkan dengan memanfaatkan hawa panas yang berasal dari asap pembakaran, dimana proses ini dapat membunuh bakteri pembusuk yang ada pada ikan. Suhu yang digunakan pada saat pengasapan berkisar 40° – 80°C, dengan waktu tergantung pada ketebalan daging ikan yang digunakan.
Sementara itu, RW dan RT Karangmulya, Harziah dan Eti sekaligus sebagai anggota Poklahsar Dikranusa menyampaikan rasa terima kasih kepada Tim PKM, karena bersedia menggelar kegiatan pengabdian kepada masyarakat di wilayahnya.
“Kami apresiasi kegiatan ini karena dapat meningkatkan keterampilan dan produktivitas anggota kelompok sehingga kesejahteraan kelompok juga dapat meningkat,” ucap Harziah. (Fajar)











