SERANG – Dinas Koperasi dan UMKM (Diskop UMKM) Provinsi Banten mengedukasi seluruh koperasi yang ada di Banten untuk menerapkan digitalisasi. Selain memudahkan transaksi, koperasi berbasis digital lebih transparan dan akuntabel.
Kepala Bidang Kelembagaan dan Pengawasan Diskop dan UKM Provinsi Banten Arief Rahman mengatakan, selama ini koperasi berbasis digital dikelola oleh kaum milenial. “Sedangkan yang tidak berbasis digital biasanya dikelola oleh orang-orang tua,” ujar Arief saat podcast di Radar Banten Podcast, beberapa waktu lalu.
Kata dia, dengan koperasi berbasis digital, maka orang bisa bertransaksi dimana saja. Untuk itu, ia mempunyai tagline Go Online or Go Home. “Ayo beralih ke digital atau lebih baik pulang saja,” tegasnya.
Arief mencontohkan, koperasi berbasis digital memudahkan anggotanya untuk bertransaksi. Misalnya saja untuk membayar listrik di malam hari. “Itu bisa dilakukan kalau koperasinya sudah digital,” ujar pria yang juga menjadi pengurus koperasi ini.
Ia mengungkapkan, saat ini koperasi berbasis digital sudah mulai tumbuh di Banten meskipun belum signifikan. Dari sekira 6.700 koperasi yang tercatat, setengahnya tidak aktif. Sedangkan koperasi berbasis masyarakat yang sudah digitalisasi tidak lebih dari 10 persen.
Koperasi yang masih bertahan hingga saat ini rata-rata adalah koperasi karyawan atau PNS. Sedangkan yang dikelola masyarakat biasanya tutup dengan sendirinya. “Jangan mendirikan koperasi hanya untuk mendapatkan bantuan,” tuturnya.
Kata dia, apabila tak mengikuti perkembangan digitalisasi, maka koperasi hanya mampu bertahan sekira dua sampai tiga tahun lagi. Jika koperasi ingin maju, maka harus mengikuti standar operasional prosedur dan informasi teknologi. “Kalau tidak, jalannya seperti keong dan human eror lebih tinggi,” tuturnya.
Arief mengatakan, ada beberapa faktor yang menyebabkan koperasi tidak ingin beralih ke digital, padahal biayanya tidak mahal. Diperkirakan, selain karena ketidaktahuan mengenai digital, biasanya koperasi itu memiliki masalah. Dengan digitalisasi, koperasi lebih transparan dan akuntabel.
Tak hanya itu, lanjut Arief, pihaknya juga lebih mudah melakukan pengawasan. “Kalau mengawasi tidak perlu turun ke lapangan, tapi bisa melalui telepon seluler, laptop, dan komputer,” ujarnya. (adv)











