LEBAK, RADARBANTEN.CO.ID – Ratusan mahasiswa yang tergabung dalam berbagai organisasi kepemudaan (OKP) melakukan demonstrasi di depan Kantor Bupati Lebak, Rangkasbitung, Senin (5/12).
Aksi itu untuk menyampaikan aspirasi terhadap pemerintah daerah di bawah kepemimpinan Bupati Iti Octavia Jayabaya.
Berdasarkan pantauan di lokasi, demontrasi awalnya berjalan dengan kondusif. Mulanya berkumpul dan duduk secara melingkar di depan gerbang kantor Bupati. Mereka pun menyampaikan aspirasinya dengan cara berorasi.
Namun, aksi mulai tidak kondusif saat ada mahasiswa yang membuat sumber api dengan membakar karton dan keranda mayat yng bertuliskan ‘Lebak Unique, 194 tahun. Bekerja dengan penindassan’.
Sumber api semakin membesar dengan para mahasiswa yang turut melemparkan beberapa karangan bungga ke sumber api itu.
Masih belum puas, para mahasiswa juga turut berorasi dan bahkan membakar karangan bungga yang ada di depan kantor DPRD Lebak.
Aksi mahasiswa itu mendapatkan pengawalan dari para personel Polres Lebak.
“Aksi ini sebagai momentum dalam peringatan hari jadi Lebak yang ke-194 tahun. Pada kesempatan ini, kami ingin menyampaikan kritik-kritikan dan rekomendasi juga kepada pemerintah daerah,” kata Ratu Nisa Yulianti, seorang mahasiswa .
Mahasiswa menilai, program-program yang digemborkan oleh Pemerintah Kabupaten Lebak tidak sesuai dengan realitas di masyarakat.
“Contohnya saja ada Perda tentang Kabupaten Layak Anak, tapi kasus tingkat kekerasan dan pelecehan justru marak, ini tidak sesuai seperti yang digaungkan oleh Pemkab Lebak,” ujar Ratu.
Ketua Cabang Himpunan Mahasiswa Islam Majelis Penyelamat Organisasi (HMI-MPO) Lebak Habibullah mengatakan, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Lebak 2021 Indeks Pembangunan Manusia (IPM) di Lebak masih rendah yakni baru capai 64,03 persen. Untuk melihat hal tersebut bisa di lihat dari pendidikan, kesehatan, dan ekonomi.
Rata-rata lama sekolah penduduk Lebak hanya mencapai 6 tahun yang artinya rata-rata lama sekolah di Lebak baru sampai tingkat SD. Begitupun kesehatan di Kabupaten Lebak masih rendah karena angka penyakit capai 12,91 persen dan angka harapan hidup masyarakat Lebak 67,33 persen , serta kemiskinan di Lebak masih tergolong tinggi yakni sekitar 134.750 juta jiwa atau 10,29 persen penduduk di Lebak berada di bawah garis kemiskinan yang pengeluarannya
sebesar Rp 323.120.
Menurutnya, untuk meningkatkan taraf hidup disuatu daerah Sumber Daya Manusia (SDM) adalah faktor penting dan fundamental, berkaitan dengan itu maka diharuskan perbaikan kualitas di bidang Pendidikan, baik itu pelajar maupun tenaga pendidik nya sekalipun. dimana ini akan menjadi sumber untuk kemajuan bangsa, serta akan menjadi asset utama dalam membangun daerah.
“Faktanya di Kabupaten Lebak sendiri jika dilihat dari fisik banyak bangunan-bangunan atau gedung sekolah yang masih dikatakan tidak layak, serta tingkat kesejahteraan tenaga pendidik honorer dikabupaten lebak saat ini juga harus juga diperhatikan, karena faktanya guru honorer di Kabupaten Lebak dari segi kesejahteraan masih sangat minim, dan harus menjadi catatan bagi pemerintah daerah,” ucapnya.
Pihaknya, menuntut kepada Bupati Iti untuk segera menuntaskan visi misi yang dulunya disampaikan pada Pemilu 2019 lalu, seperti peningkatan kualitas SDM, dan pemerataan pembangunan di Bumi Multatuli ini.
“Kita ingin Bupati dan jajarannya bisa fokus dalam menyelesaikan berbagai permasalahan di Kabupaten Lebak ini, khususnya soal pendidikan juga pemerataan pembangunan. Ibu Bupati ini masih memiliki banyak PR, makanya harap fokus. Jangan malah sibuk memikirkan nasib pasca lengser, ” pungkasnya.
Reporter: Yusuf Permana
Editor: Aas Arbi










