TANGERANG, RADARBANTEN.CO.ID-Usai diberitakan Radar Banten, Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Kota Tangerang Selatan langsung menemui Romi di rumah kontrakannya di RT3/RW2, Kecamatan Serpong, Kota Tangsel, pada Rabu 21 Desember, kemarin.
Menurut Kabid Perlindungan Perempuan dan Perlindungan Khusus Anak DP3AP2KB Tangsel, Irma Safitri pihaknya memastikan akan menyekolahkan kembali Muhammad Romi.
“Kami telah berkoordinasi dengan Dinas Pendidikan dan akan mengurus berkas administrasinya agar Muhammad Romi bisa sekolah lagi,” ujar Irma, Kamis 22 Desember 2022.
Menurut Irma, dari hasil penelusuran diketahui Romi putus sekolah saat kelas 5 SD di Kabupaten Lebak. Sebelumnya, Romi mengaku putus sekolah saat kelas 2 SMP.
“Setelah putus sekolah di Lebak, Romi dibawa ibunya ke Tangsel, Januari lalu,” ujarnya.
Irma mengatakan, pihaknya juga sempat kebingungan ketika mau mengurus berkas administrasi sekolah Romi, pasalnya banyak ketidaksesuain berkas yang dimiliki Romi.
“Yang jadi permasalahan, antara akte lahir dengan rapor, datanya berbeda. Lalu, ibunya tidak memiliki surat pindah sekolah, sehingga NIS-nya (Nomor Induk Siswa-red) tidak ketahuan. Sekolah yang mau menerima Romi disini jadinya kesulitan memproses perpindahannya,” jelasnya.
Irma menegaskan, pihaknya juga telah menegur ibu Romi karena menyuruhnya berjualan cilok dari pagi sampai sore hari.
“Tidak boleh anak kerja terlalu lama, jatuhnya eksploitasi anak. Kalau niat bantu orangtua boleh saja, tapi anak tidak boleh lelah,” ungkapnya.
Terpisah, Kepala Dinas Pendidikan Kota Tangsel Deden Deni memastikan akan menyekolahkan kembali Romi. Menurut Deden, tidak boleh ada anak putus sekolah di Kota Tangsel.
“Pak Walikota sudah menegaskan, tidak boleh ada anak putus sekokah di Tangsel. Saya juga sudah kerumahnya, seluruh keperluan sekolah Romi akan kita bantu,” tandasnya.
Diketahui, sehari-hari Muhammad Romi berjualan cilok dengan berjalan ratusan meter. Nasibnya malang, putus sekokah dan ditinggal mati ayahnya, sehingga harus memenuhi kebutuhan keluarganya.
Romi mengaku satu bungkus berisikan 3 buah cilok dijual dengan harga Rp 2 ribu. Sekali berjualan, ia membawa dua bungkus plastik berisikan puluhan cilok.
Dalam sehari berjualan, ia bisa membawa pulang uang Rp 200 ribu sampai Rp 300 ribu. Uang itu kemudian ia berikan seluruhnya kepada ibunya yang sedang mengasuh adiknya yang masih balita.
Menurutnya, cilok yang ia jual dibuat oleh ibunya. Ibunya harus menyisihkan modal Rp 100 ribu dalam setiap membuat cilok dirumah kontrakannya.
Romi mengaku masih ingin bersekolah. “Saya masih pengen sekolah lagi. Gak papa sambil jualan cilok nanti,” ujarnya ketika ditemui di Perumahan Nusa Loka, Serpong, Kota Tangsel, Selasa 20, Desember 2022.
Reporter: Syaiful Adha.
Editor ; Ahmad Lutfi











