“Jadi memang temen – temen BIM ini, kita berdayakan membuat pupuk ini supaya banyak manfaatnya. Apalagi temen-temen dari BIM ini yang kita tahu eks napiter, dan memang tugas kita untuk memberdayakan,” katanya.
Disatu sisi, diungkapkan Donny, pihaknya tentu bersyukur atas pengolahan limbah Faba menjadi pupuk organik. Faba ini adalah limbah non B3 PLTU Banten 2 Labuan.
“Dengan adanya pengolahan menjadi pupuk ini, maka Faba tadi bisa dikatakan bermanfaat. Nah inilah yang dilakukan oleh temen – temen BIM, mereka melakukan penelitian, pengujian, terhadap limbah Faba yang hasilnya bisa diolah menjadi pupuk organik,” katanya.
Proses pembuatan pupuk dari limbah Faba ini kurang lebih selama 45 hari. Kemungkinan setelah Lebaran Idul Fitri nanti baru bisa dipanen pupuknya.
“Dan akan diuji coba di sawah seluas dua hektar. Mudah-mudahan lancar yang diharapkan hasil produksi lebih banyak dari pupuk organik lain yang dijual di pasar dan untuk tahap pertama sebanyak 25 ton,” katanya.
Ketua Umum Pengurus Besar Mathl’aul Anwar KH. Embay Mulya Syarief mengucapkan, syukur alhamdulilah melalui Koperasi BIM bisa mengolah limbah Faba menjadi pupuk organik.
“Alhamdulilah, ini perjalanan panjang, semula kan limbah ini masuk pada Limbah berbahaya B3, dengan upaya yang sungguh – sungguh sekarang limbah ini sudah dikeluarkan dari limbah B3 menjadi limbah non B3 oleh pemerintah,” katanya.
Tinggal bagaimana, diungkapkan Kyai Embay, dapat memanfaatkan limbah ini, karena di sini saja perhari sebanyak 350 ton. Kalau enggak dimanfaatkan maka akan menjadi gunung
“Pupuk itu yang sekarang bahan bakunya impor, artinya menyerap devisa tidak sedikit. Nah dengan kita memproduksi pupuk yang semua bahan bakunya itu ada di sini, akan berdampak kita tidak lagi bergantung kepada impor,” katanya.
Sedangkan, Embay berpendapat, bahwa pupuk kimia itu pada dasarnya benda asing. Semua itu sintetis sehingga sangat berbeda dengan pupuk organik.
“Kan tubuh kita sendiri organik, mudah – mudahan dengan upaya kita semua ini, apalagi sekarang Bank Indonesia juga turun, tertarik membantu membiayai temen – temen dari Koperasi Bina Insaf Mandiri. Mudah – mudahan dengan tidak terlalu lama izin edarnya bisa keluar dan bisa bermanfaat buat masyarakat, khususnya para petani,” katanya.
Wakil Direktur Bank Indonesia Wilayah Banten Dedi Junaedi mengatakan, terkait dengan ini kan salah satu prodak inovasi dari bahan sebelumnya berbahaya termasuk B3, kemudian diproses tertentu kemudian berubah menjadi sesuatu sangat berguna.
“Pupuk yang sipatnya organik, gitu, selain saat ini Kelangkaan pupuk juga akan membebani masyarakat petani. Harapannya kalau memang ini bisa menjadi suatu prodak yang bagus, menghasilkan prodak yang bermanfaat dan juga meningkatkan produksi, dan kemudian juga bisa digunakan oleh masyarakat cukup banyak, maka kelangkaan pupuk itu mudah-mudahan bisa diisi, oleh prodak ini,” katanya
Sehingga nanti kalau memang sudah tersebar makin banyak orang yang menggunakan makin ada peningkatan dari produksi pertanian.
“Maka produk itu diharapkan dapat menekan harga – harga supaya tidak terlalu tinggi. Nah seperti itu,” katanya.
Reporter : Purnama Irawan
Editor: Ahmad Lutfi











