TANGSEL, RADARBANTEN.CO.ID-Pemberian susu kental manis pada anak rupanya menghambat upaya penanganan stunting (gizi buruk) yang dilakukan Pemerintah.
Yayasan Abhi Praya Insan Cendekia Indonesia (YAICI) mengungkapkan, susu kental manis bukanlah susu murni dan gizi yang terkandung didalam susu kental manis berbeda dengan susu asli yang memang kaya gizi.
“Kita Indonesia, sejak jaman Belanda sudah salah persepsi, dimana susu kental manis dianggap minuman bergizi, padahal susu kental manis itu bukan susu, tapi sirup beraroma susu, sangat tinggi kadar gulanya, lebih 50 persen,” ungkap Arif Hidayat, ketua harian YAICI kepada RADARBANTEN.CO.ID, Jumat, 5 Mei 2023.
Menurut Arif, YAICI pertama kali membongkar kepalsuan iklan susu kental manis pada tahun 2018 lalu, sehingga setelah itu produk-produk susu kental manis tidak lagi mencatut nama susu dan gizi serupa susu didalam kemasan produknya.
“Kami yang pertama menggebrak susu kental manis pada tahun 2018 lalu. Coba lihat sekarang, sudah tidak ada lagi iklan susu kental manis di media cetak, tv, online dan sebagainya yang mengklaim memikiki gizi setara susu asli,” jelasnya.
Menurut Arif, akibat salah persepsi di masyarakat yang menganggap susu kental manis adalah susu asli, banyak orangtua akhirnya memberi susu kental manis bagi anak-anaknya dengan harapan dapat mengatasi stunting.
Penelitian yang dilakukan pihaknya di DKI Jakarta, 1 dari 4 balita mengkonsumsi kental manis setiap harinya, dan dari 1.268 ibu, 341 (26,9%) diantaranya memberikan minuman kental manis kepada anak balitanya untuk pengganti gizi bagi buah hatinya.
Dari 341 ibu, 121 (35%) diantaranya memberikan kental manis kurang dari 1 kali sehari, sementara 220 (65%) lainnya memberikan lebih dari 1 kali sehari.
Hal ini justru memperburuk upaya penanganan stunting. “Justru yang terjadi, anak yang stunting malah terkena penyakit obesitas (kelebihan berat badan akibat banyak konsumsi gula-red).
Arif melanjutkan, kesalahpahaman persepsi terhadap susu kental manis inilah yang menjadi permasalahan serius dan memang perlu untuk ditangani oleh Pemerintah serta didukung oleh seluruh elemen masyarakat.
“Sebab, hal ini dianggap sebagai salah satu faktor utama yang memperburuk permasalahan gizi di Indonesia, dimana saat ini Indonesia mengalami triple burden malnutrition berupa kekurangan, kelebihan, dan ketidakseimbangan gizi,” tegasnya.
Reporter: Syaiful Adha
Editor: Ahmad Lutfi











