KOTA TANGSEL, RADARBANTEN.CO.ID- Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang tengah digencarkan pemerintah menghadapi tantangan serius, khususnya dalam kesiapan dan kapasitas penyediaan susu bagi jutaan penerima manfaat.
Hal tersebut disampaikan Epi Taufik, Guru Besar Ilmu dan Teknologi Susu Fakultas Peternakan IPB University sekaligus tim pakar di Badan Gizi Nasional (BGN) RI.
Menurutnya, ketersediaan Susu Segar Dalam Negeri (SSDN) saat ini masih terbatas jika dibandingkan dengan kebutuhan program MBG. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) 2024, produksi susu nasional mencapai sekitar 808 juta kilogram per tahun atau setara kurang lebih 2 juta liter per hari.
“Dengan jumlah siswa mencapai puluhan juta, kebutuhan susu untuk program MBG sangat besar. Jika diberikan dua kali seminggu saja, kebutuhan bisa mencapai 144 juta hingga 177 juta liter per tahun,” ujarnya melalui keterangan yang diterima Kamis 9 April 2026.
Ia menjelaskan, angka tersebut sudah menyerap sekitar 18 hingga 22 persen dari total produksi susu nasional. Artinya, program ini mulai mengambil porsi dari kebutuhan pasar komersial yang selama ini juga belum sepenuhnya terpenuhi.
Meski demikian, Epi menegaskan bahwa kondisi saat ini belum bisa disebut sebagai kelangkaan susu segar, melainkan meningkatnya persaingan untuk mendapatkannya.
“Bukan berarti susu segar langka, tapi persaingan untuk mendapatkan susu segar semakin ketat, karena harus berbagi dengan kebutuhan industri dan program pemerintah,” jelasnya.
Selain persoalan bahan baku, tantangan juga muncul di sektor hilir, khususnya keterbatasan kapasitas produksi susu olahan seperti UHT. Saat ini, kapasitas produksi nasional hanya sekitar 4,3 miliar kemasan per tahun, sementara kebutuhan untuk program MBG bisa mencapai 5,7 hingga 7,1 miliar kemasan.
Kondisi ini menyebabkan antrean produksi dan berpotensi menimbulkan kelangkaan produk tertentu, terutama susu UHT full cream tanpa rasa.
Di sisi lain, untuk memenuhi kebutuhan tambahan tanpa mengganggu pasokan yang ada, diperlukan penambahan sapi perah dalam jumlah signifikan.
Diperkirakan, tambahan sekitar 31 ribu hingga 37 ribu ekor sapi perah laktasi dibutuhkan untuk mendukung program tersebut.
Hingga akhir 2025, realisasi pengadaan sapi perah baru mencapai sekitar 12.769 ekor dalam kondisi bunting. Jika seluruhnya berhasil berproduksi, jumlah tersebut dinilai dapat membantu meningkatkan produksi susu nasional.
Namun, tantangan akan semakin besar jika cakupan penerima program diperluas hingga 74 juta siswa atau frekuensi pemberian susu ditingkatkan menjadi lebih sering.
Epi menilai, peningkatan komposisi susu segar dalam program MBG dari 20 persen menjadi 30 persen kemungkinan baru dapat direalisasikan pada 2027 atau 2028, seiring dengan peningkatan produksi dalam negeri.
“Perlu perencanaan matang dari hulu ke hilir agar program MBG berjalan optimal tanpa mengganggu keseimbangan pasar susu nasional,” pungkasnya.
Reporter: Syaiful Adha
Editor: Agung S Pambudi











