SERANG, RADARBANTEN.CO.ID – Para penyandang disabilitas termasuk dalam kelompok rentan bencana.
Itu sebabnya, penyandang disabilitas memerlukan akses informasi yang inklusif termasuk dalam hal mitigasi kebencanaan.
Hal itu disampaikan Staf Khusus Presiden RI Bidang Sosial, Angkie Yudistia. Ia mengatakan, seminar hybrid Hari ke-76 Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika dengan tema ‘Informasi Cuaca, Iklim, Gempa Bumi, dan Tsunami Ramah Disabilitas’ sangat bermanfaat bagi para penyandang disabilitas karena mereka memerlukan sosialisasi terkait informasi-informasi yang ramah terhadap disabilitas.
Angkie juga mengajak para penyandang disabilitas untuk mengunduh aplikasi BMKG untuk mengetahui tentang bencana-bencana yang terjadi.
“Tidak hanya saat di tempat kita berada, tapi di seluruh Indonesia,” ujar Angkie.
Kata dia, seminar ini juga sesuai dengan amanat Peraturan Pemerintah Nomor 42 tahun 2020 tentang Aksestabilitas terhadap Pemukiman Pelayanan Publik dan Perlindungan dari Bencana bagi Penyandang Disabilitas.
Maka, penanggulangan bencana harus memperhatikan aspek-aspek data terpilah serta akomodasi yang layak, partisipasi peningkatan kapasitas dan prioritas perlindungan bencana.
“Secara garis besar ini memang harus tersedianya standar dan pedoman bagi pelayanan penanganan kebencanaan bagi teman-teman penyandang disabilitas dan sesuai dengan ketentuan standar pelayanan minimal atau SPM,” tuturnya.
Angkie mengatakan, 8,5 persen penduduk Indonesia adalah penyandang disabilitas. Maka, perlindungan dari bencana bagi penyandang disabilitas dalam penanggungan bencana meliputi banyak aspek mulai dari sistem bagaimana peringatan ini yang wajib menjangkau penyandang disabilitas secara tepat waktu dan akurat.
Kata dia, anggota penyandang disabilitas memiliki kesempatan yang sama untuk mendapatkan kemudahan dalam mengakses informasi utamanya informasi mengenai kebencanaan yang berbasis digital.
Upaya ini merupakan salah satu cara untuk meningkatkan asas mobilitas pelayanan bagi penyandang disabilitas sehingga informasi dan edukasi mengenai metodologi, klimatologi, dan geofisika dapat tersampaikan secara maksimal dan pada akhirnya dapat meminimalisir dampak yang ditimbulkan dari fenomena terjadinya bencana.
Angkie berharap, dengan begitu akan meminimalisir adanya korban saat terjadi bencana.
“Saya beberapa kali itu ke tempat-tempat bencana yang telah terjadi adalah sulitnya mendapatkan pendataan teman-teman penyandang disabilitas,” ujarnya.
Pada kesempatan itu, ia juga memberitahukan kepada penyandang disabilitas untuk terus meng-update data di Dukcapil terdekat karena pendataan satu data pemerintah ini ada di Dukcapil.
“Kami memerlukan pendataan yang valid terhadap penyandang disabilitas tentang kondisi penanganan disabilitas. Jadi ada formulir yang akan diberikan oleh Dukcapil perihal ragam penyandang disabilitas,” tutur Angkie.
Ia berharap, ke depan, informasi untuk penyandang disabilitas terkait kebencanaan lebih baik lagi.
“Sehingga pada saat terjadi bencana kita tahu apa yang harus kita lakukan untuk menghadapi bencana-bencana yang akan terjadi karena bagaimanapun Indonesia ini sangat rentan dengan kondisi bencana,” ujarnya. (*)
Reporter: Rostinah
Editor: Agus Priwandono










