SERANG,RADARBANTEN.CO.ID – Berdasarkan data dari survei status gizi anak 2022 kasus stunting di Kabupaten Serang masih cukup tinggi yakni mencapai 26,2 persen.
Angka tersebut masih cukup tinggi bila dibandingkan dengan target nasional penurunan stunting dari pemerintah pusat yakni di angka 14 persen pada tahun 2024.
Stunting sendiri merupakan kondisi yang ditandai dengan kurangnya tinggi, berat badan anak apabila dibandingkan dengan anak seusianya. Yang harus diwaspadai ialah gangguan terhadap perkembangan otak anak sehingga menyebabkan kecerdasan anak berkurang.
Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Serang Agus Sukmayadi mengatakan, pihaknya terus berupaya melakukan pencegahan stunting dengan berbagai cara seperti, memberikan bantuan makanan tambahan bagi ibu hamil atau anak yang diduga akan stunting melalui dapur sehat atasi stunting atau dapur gizi.
“Kita turun langsung ke masyarakat, memberikan gizi terbaik untuk mencegah terjadinya stunting. Kegiatan ini, kita lakukan di desa yang menjadi lokasi khusus stunting 2023,” katanya, Selasa, 10 Oktober 2023.
Selain itu, pihaknya juga melakukan pendampingan kepada keluarga atau anak yang terindikasi mengalami stunting agar pemenuhan gizi seimbangnya dapat terpenuhi.
“Tujuannya, supaya keluarga yang punya potensi stunting bisa mengakses gizi seimbang atau cukup pada saat dilakukan pengukuran tinggi badan dan berat badan,” jelasnya.
Ia mengatakan, stunting ini ukuran yang tidak sesuai dengan normal maka dilakukan intervensi melalui pemberian makanan tambahan. Kemudian, penanganan sensitif atau spesifik serta diukur kembali setelah tiga dan enam bulan.
“Setelah pengukuran itu, ternyata hasilnya signifikan, karena kita ada pengukuran sebelum dilakukan intervensi dan sesudah intervensi ternyata dampaknya sangat signifikan untuk menurunkan angka stunting,” ucapnya.
Agar tidak kembali stunting, kata Agus, dilakukan pemberdayaan masyarakat dengan cara pemberian Bantuan Sosial (Bansos), penyediaan air bersih, dan merenovai rumah tidak layak huni (rutilahu).
“Sehingga, diharapkan keluarga itu mampu secara mandiri untuk dapat mengakses gizi berimbang,” tuturnya.
Dikatakan Agus, penurunan stunting di Kabupaten Serang berdasarkan hasil survei status gizi anak 2022 di angka 26,2 persen. Tapi, kalau berdasarkan Elektronik-Pencacatan dan Pelaporan Gizi Berbasis Masyarakat (E-PPGBM) angka stunting turun di bawah angka 20 persen.
“Tapi, sekarang ini sedang dilakukan survei kesehatan Indonesia yang dilakukan oleh Kemenkes RI. Mudah-mudahan, November ini sudah dirilis dan angkanya sudah dapat diperoleh,” tuturnya.
Sementara itu, Bupati Serang Ratu Tatu Chasanah mengatakan, dalam upaya penurunan stunting pihaknya menggandeng serta pihak swasta untuk menyalurkan CSR nya dalam penanganan stunting di Kabupaten Serang.
Salah satunya menggandeng Charoen Pokphand untuk menyalurkan bantuan telur secara gratis kepada masyarakat yang mengalami stunting atau gizi kurang.
“Proses distribusi dilakukan oleh Dinas Keluarga Berencana Perberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DKBP3A). Target bantuan yakni anak-anak bergizi buruk, dan ibu hamil yang kekurangan gizi,” jelasnya.
Nantinya akan ada sebanyak 3,95 ton telur yang ada di distribusikan kepada masyarakat di sembilan Kecamatan di kabupaten Serang selama tiga bulan ke depan.
“Bantuan ini diberikan kurang lebih untuk 2.155 orang di sembilan kecamatan sesuai target Pokphand,” jelasnya.
Lebih lanjut ia menargetkan penurunan angka stunting di Kabupaten Serang pada tahun 2024 sesuai dengan target nasional yakni di angka 14 persen. Kendati cukup berat, pihaknya optimis penurunan stunting dapat terealisasikan.
“Kita fokuskan bantuan untuk anak gizi buruk dan ibu hamil kurang gizi. Bantuan ini bukan hanya berefek terhadap pemenuhan protein, tapi juga penurunan stunting. Dan kami sangat berterima kasih terhadap Pokphand, dan semoga menjadi contoh bagi perusahaan lain,“ pungkasnya.(*)
Reporter: Ahmad Rizal Ramdhani
Editor : Aas Arbi












