SERANG, RADARBANTEN.CO.ID – Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Provinsi Banten bersama Institut Pertanian Bogor (IPB) dan PLN Indonesia Power sedang mengembangkan tanaman bio energi yang dapat digunakan sebagai bahan baku awal biomassa untuk cofiring.
Upaya tersebut dilakukan dengan menggandeng serta Kelompok Tani Hutan (KTH) yang ada di Cinangka untuk mengoptimalkan hutan rakyat dengan pola agroforestry di sekitar area PLTU di seluruh Banten.
Kabid Penataan dan Peningkatan Kapasitas pada Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Provinsi Banten Irwan Setiawan mengatakan, ada dua jenis tanaman yang biasa dikembangkan untuk tanaman bioenergi.
“Tanaman yang banyak direkomendasikan itu ialah tanaman Gamal dan Kaliandra,” katanya sat dihubungi melalui sambungan telepon, Kamis 21 Desember 2023.
Menurutnya, kedua tanaman tersebut dipilih lantaran memiliki beberapa keunggulan yakni dapat dengan mudah tumbuh dan cepat besar. “Karena kan kita harus memilih tanaman yang mudah ditanam dan cepat tumbuhnya. Kalau gamal ditancap aja kan tumbuh. Sudah banyak diambil, nanti trubus lagi, bertunas lagi,” tegasnya.
Dalam upaya pengembangan tanaman bioenergi tersebut, pihaknya telah bekerjasama dengan 20 kelompok tani yang ada di Banten. Pihaknya pun sengaja memilih kawasan Cinangka sebagai salah salah satu lokasi pengembangan gamal lantaran beberapa faktor.
“Di Cinangka yang sudah tersedia Gamal, itu dulunya bekas tiang untuk tanaman Lada. Nah lada nya sudah tidak produktif lagi kita manfaatkan Gamal nya. Kita juga melihat laporan ada banyak lahan kosong. Kalau dimanfaatkan untuk menanam Gamal cukup potensial,” jelasnya.
Menurutnya, pengembangan tanaman bioenergi ini memiliki potensi yang bagus. Pasalnya, memiliki pasar yang cukup luas dan masih sedikit yang mengembangkan.
“Ini sesuatu yang baru walaupun belum kelihatan tetapi ada peluang, tinggal bisa disiplin atau tidak, punya endurance tidak untuk itu,” jelasnya.
Ia pun merekomendasikan agar pengembangan pohon gamal dapat di kolaborasi kan dengan memelihara hewan ternak. “Kalau berdiri sendiri mungkin susah, jadi harus digabung dengan peternakan, karena daunnya bisa jadi pakan ternak. Jadi kayunya bisa buat cofairing biomasa daunnya bisa buat ternak. Kalau itu berjalan menurut kami menjanjikan buat masyarakat,” pungkasnya.
Sementara itu, Direktur PT Artha Daya Coalindo yang merupakan anak Perusahaan PLN Indonesia Power Judi Winarko mengatakan, telah ada study pada tahun 2021 mengenai potensi pemanfaatan lahan kering dan hutan rakyat di Pulau Jawa.
Hasil studi menunjukkan ketersediaan lahan kering untuk budidaya tanaman energi sangat potensial untuk diimplementasikan. Pada tahun 2022 juga telah dilakukan pendekatan dan penandatanganan MoU dengan 20 Kelompok Tani hutan (KTH) di daerah sekitar PLTU Suralaya.
“Program Kolaborasi Pengembangan Tanaman Biomassa ini merupakan rangkaian Kerjasama antara berbagai pihak dan membutuhkan dukungan berbagai pihak seperti IPB, Gapoktan di Wilayah Banten, PT PLN Indonesia Power, DLHK Provinsi Banten,” jelasnya.
Dari hasil studi telah dilakukan, pihaknya mengidentifikasikan setidaknya terdapat 7 kecamatan potensial untuk dilaksanakan pengembangan tanaman energi. Program lanjutan tahun 2023 adalah pengumpulan tanaman energi eksisting yang telah dimiliki oleh masyarakat sebagai bahan baku awal biomassa yang dapat digunakan sebagai bahan baku cofiring. (*)
Reporter: Ahmad Rizal Ramdhani
Editor: Abdul Rozak











