SERANG, RADARBANTEN.CO.ID – Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Banten mencatat, nilai impor Banten November 2023 turun 5,35 persen dibanding bulan sebelumnya, yaitu dari US$3,15 miliar menjadi US$2,98 miliar. Penurunan ini disebabkan oleh turunnya impor migas dan nonmigas.
Nilai impor nonmigas turun sebesar 3,01 persen dari US$2.558,10 juta pada bulan sebelumnya, menjadi US$2.481,20 juta. Begitu juga dengan nilai impor migas, mengalami penurunan sebesar 15,45 persen menjadi US$503,04 juta apabila dibanding bulan sebelumnya sebesar US$594,98 juta.
Kepala BPS Provinsi Banten Faizal Anwar mengatakan, impor nonmigas dari 12 negara asal barang pada November 2023 turun 3,12 persen atau sebesar US$61,44 juta dibanding bulan sebelumnya. Nilai impor nonmigas dari negara lainnya juga mengalami penurunan sebesar US$15,46 juta atau 2,63 persen.
“Negara pemasok barang impor nonmigas terbesar pada November 2023 adalah Tiongkok dengan nilai impor sebesar US$515,86 juta,” ujar Faizal saat membacakan berita resmi statistik secara virtual, Selasa, 2 Januari 2024.
Diikuti oleh Singapura dan Australia dengan impor masing-masing sebesar US$255,36 juta dan US$207,55 juta. Sementara total impor nonmigas dari ASEAN mencapai US$448,18 juta.
Bila dibandingkan bulan lalu, 6 dari 12 negara pemasok impor nonmigas memberikan andil terhadap penurunan impor di Banten. Penurunan tertinggi nilai impor nonmigas berasal dari negara Singapura sebesar US$97,80 juta, Jepang US$33,69 juta, dan Hongkong US$32,98 juta.
“Nilai impor nonmigas Januari sampai November 2023 untuk 12 negara asal barang impor tercatat US$19,40 miliar atau turun 3,42 persen dibanding periode sama tahun sebelumnya,” tutur Faizal. Pangsa impor nonmigas terbesar pada Januari sampai November 2023 berasal dari Tiongkok yaitu 18,59 persen, diikuti oleh Australia sebesar 9,17 persen, serta Singapura dengan andil sebesar 9,12 persen. Pangsa impor gabungan ketiga negara tersebut sebesar 36,88 persen. Sedangkan pada sembilan negara utama lainnya, masing-masing memberikan andil kurang dari 8 persen.
Reporter: Rostinah
Editor: Aditya











