SERANG, RADARBANTEN.CO.ID – Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Banten mencatat, jumlah orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) yang ada di Banten mencapai 58.994 orang. Dari jumlah itu, 17 orang di antaranya masih dipasung.
Berdasarkan data Dinkes, dari delapan kabupaten/kota di Banten, ODGJ paling banyak berada di Kota Tangerang dan Kabupaten Tangerang. Kemudian disusul Kota Tangerang Selatan, Kabupaten Serang, Kabupaten Pandeglang, Kabupaten Lebak, Kota Cilegon, dan terakhir Kota Serang.
Kepala Dinkes Provinsi Banten dr Ati Pramudji Hastuti mengaku, angka pemasungan di Banten terus mengalami penurunan. “Tahun sebelumnya, hampir 198 orang. Empat tahun ini terus turun, dan sisa 17 orang,” ujar Ati.
Ia berharap, semua ODGJ tidak dipasung. Namun, yang menjadi kendala adalah keluarga yang memiliki ODGJ dan tidak bisa mengurus, maka dipasung dan ditinggal. “Atau khawatir karena suka ngamuk, atau malu. Dia umpetin tuh keluarganya,” ungkap Ati.
Untuk itu, pihaknya terus meningkatkan Desa Siaga Jiwa Sehat. “Alhamdulillah tinggal 17 yang dipasung,” tuturnya.
Berdasarkan data Dinkes, pemasungan pada tahun 2022 sebanyak 33 orang. Sementara data per Desember 2023 menurun menjadi 17 kasus pemasungan. Jumlah itu terdiri dari Kabupaten Lebak enam kasus, Kabupaten Pandeglang empat kasus, Kota Serang lima kasus, dan Kota Cilegon dua kasus.
Namun, kendala kedua yang dihadapi adalah saat ODGJ dalam kondisi akut. “Mereka kita lepaskan dari pasung, bawa ke rumah sakit, dan sudah tenang kemudian dilakukan perawatan dengan berobat jalan. Namun, ketika dia menuju tahap rehab yang bisa hidup mandiri, dia gak bisa diberdayakan, rata-rata masyarakat gak mau terima mereka sebagai pekerja. Tidak mudah. Ketika dia tidak diberdayakan, dia kembali kambuh,” ujar Ati.
Tadinya, lanjut Ati, Dinas Sosial (Dinsos) Provinsi Banten akan membuat rumah singgah atau tempat rehabilitasi dan pemberdayaan masyarakat. (*)
Editor Bayu Mulyana











