PANDEGLANG, RADARBANTEN.CO.ID– Pengangguran masih menjadi momok bagi Kabupaten Pandeglang. Meskipun mengalami penurunan, namun angkanya masih tinggi.
Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Pandeglang, Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) pada 2022 mencapai 9,24 persen, dengan sekitar 50.910 penduduk Pandeglang menganggur.
Kepala BPS Kabupaten Pandeglang, Achmad Widijanto, mengatakan, eskalasi tingkat pengangguran yang membutuhkan perhatian serius dari semua pihak terkait guna mencari solusi yang tepat.
“Kita perlu meninjau ulang pola pendidikan dengan fokus pada potensi kerja. Jika terdapat bidang-bidang unggulan yang membutuhkan keterampilan khusus, pendidikan harus mengarah ke arah sana dan mempertimbangkan potensi secara menyeluruh di daerah,” ungkapnya, Jumat, 1 Maret 2023.
Menurutnya, penting untuk mengkaji ulang pola pendidikan dengan menitikberatkan pada kebutuhan lapangan kerja.
Selanjutnya, BPS Kabupaten Pandeglang mencatat bahwa tingkat partisipasi angkatan kerja saat ini mencapai sekitar 62 persen.
“Walaupun jumlah angkatan kerja meningkat, namun tingkat partisipasi kerja mungkin mengalami penurunan,” ujarnya.
Menurutnya, pemerintah daerah harus memiliki strategi yang efektif dalam penanggulangan masalah pengangguran di Kabupaten Pandeglang.
“Iya, semua pihak, baik swasta maupun lembaga lain, perlu bekerjasama dengan investor untuk membuka lapangan kerja. Selain itu, perlu dilakukan job fair secara luas dan optimal sesuai dengan keterampilan para pelamar,” jelasnya.
Mencari dan mendapatkan pekerjaan bukan lah sesuatu yang mudah. Bahkan, sekalipun bagi mereka yang sudah menempuh atau pun menyelesaikan pendidikan di perguruan tinggi.
Fenomena ini makin terasa miris karena banyak di antara mereka yang kesulitan mendapatkan lapangan kerja yang layak. Khususnya bagi kaum milenial dan Gen Z.
Salah satu pemuda Pandeglang, Anisa, mengungkapkan, mencari pekerjaan terasa sulit baginya. Meskipun telah memiliki sertifikat kompetensi di bidang perkantoran, administrasi, komputer, dan IT, namun hal tersebut tidak menjamin mendapatkan pekerjaan.
“Iya, mencari pekerjaan memang sulit meskipun saya dan teman-teman memiliki keahlian dan kompetensi. Banyak yang saya dengar mengenai pentingnya jalur orang dalam, sehingga saya merasa sedikit pesimis untuk bisa mendapatkan pekerjaan. Ini membuat orang-orang yang berkompeten merasa terpinggirkan,” ujarnya.
Dia berharap akan ada kesempatan untuk bekerja sesuai dengan keahliannya di masa depan.
“Saya berharap akan ada lowongan yang sesuai dengan keahlian saya,” pungkasnya.
Editor : Merwanda











