LEBAK, RADARBANTEN.CO.ID- Yayasan Guriang Tujuh Indonesia menggelar peluncuran program Saba Budaya Banten di Teater Guriang Indonesia, Desa Warunggunung, Kecamatan Warunggunung, Kabupaten Lebak pada 29-31 Maret 2024.
Peluncuran program Saba Budaya Banten dihadiri banyak pegiat seni budaya dari berbagai daerah di Provinsi Banten, Kepala BPK Wilayah 8, Dinas Pariwisata Provinsi Banten, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Lebak, mahasiswa, pelajar, komunitas dan juga perwakilan dari sekolah berkebutuhan khusus di Kabupaten Lebak.
Direktur Guriang Indonesia Dede Abdul Majid mengatakan, Guriang sebagai ruang publik kebudayaan di Provinsi Banten merujuk pada aspek kebudayaan di mana masyarakat dapat mengakses dan terlibat langsung dalam ruang ekosistem kebudayaan sehingga masyarakat lebih mengenal dan dekat dengan kebudayaan yang ada di Provinsi Banten.
“Guriang sebagai ruang publik kebudayaan memiliki peran penting dalam memperkaya kehidupan sosial dan intelektual masyarakat. Guriang tidak hanya menjadi tempat untuk memamerkan karya seni dan warisan budaya, tetapi juga tempat untuk berpartisipasi dalam aktivitas kebudayaan, seperti pertunjukan seni, diskusi, workshop, dan acara-acara budaya lainnya,” katanya kepada RADARBANTEN.CO.ID, Selasa 2 April 2024.
Peluncuran Saba Budaya Banten dibuka oleh Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Lebak Imam Rismahayadin. Selain itu kegiatan Saba Budaya Banten tersebut, berlangsung selama tiga tahun sebagai kegiatan berkelanjutan yang didanai melalui mekanisme Dana Indonesiana.
Mewakili Pemerintah Kabupaten Lebak, Imam mengajak semua lapisan masyarakat bersinergi membangun dan memfungsikan ruang budaya Guriang Indonesia sebagai ruang membangun daerah dari sudut pandang kebudayaan.
“Guriang harus dimiliki semua masyarakat, harus sering bekerja sama untuk memelihara dan mengembangkan ruang publik kebudayaan agar tetap relevan dan berdaya guna bagi masyarakat ,” tutur Imam.
Sementara itu, Kabid Ekraf Dinas Pariwisata Provinsi Banten Rohendi menyampaikan, Guriang dengan program Saba Budaya Banten berfungsi sebagai pusat pendidikan informal di mana masyarakat dapat belajar tentang sejarah, seni, sastra, dan budaya lainnya.
Menurutnya, Guriang memainkan peran penting dalam mempromosikan pemahaman lintas budaya, toleransi, dan penghargaan terhadap keberagaman.
“Kami dari Pemerintah Provinsi Banten berterima kasih dengan adanya ruang publik ini. Kami saja Pemerintah Provinsi Banten tidak mampu membuat ruang seperti ini. Dede Majid malah sebaliknya. Majid mampu mengumpulkan kita semua para senimana budayawan di tempat ini. Sungguh luar biasa,” tandas Rohaendi.
Saba Budaya Banten memiliki 4 program. Pertama pendokumentasian karya budaya rawan punah, kedua pendampingan pada pegiat budaya perempuan di Provinsi Banten, ketiga tata kelola, dan keempat loka karya dan pameran karya siswa-siswi berkebutuhan khusus.
Reporter: Nurandi
Editor: Aas Arbi











