LEBAK, RADARBANTEN.CO.ID- Terus menjaga kewarasan berpikir dan sejarah di Banten. Upaya itu kembali ditegaskan Teater Guriang Indonesia melalui program tahunan Rangkasbitung Corner.
Program ini bukan hanya ruang seni pertunjukan, tetapi juga ikhtiar kebudayaan untuk mendokumentasikan sosok-sosok penting di Banten melalui monolog dan film dokumenter.
Direktur Teater Guriang Indonesia, Dede Abdul Majid, menilai kerja kebudayaan semacam ini menjadi penting di tengah semakin tipisnya ruang refleksi publik terhadap sejarah lokal.
Menurutnya, masyarakat membutuhkan medium yang lebih dekat dan lebih manusiawi untuk memahami masa lalu.
“Lewat teater dan film dokumenter, kami ingin menghadirkan kembali tokoh-tokoh penting Banten dengan cara yang lebih hidup, lebih membumi, dan lebih dekat dengan masyarakat,” ujar Dede Abdul Majid kepada RADARBANTEN.CO.ID, Jumat 27 Maret 2026.
“Ini bukan hanya soal pertunjukan, tapi soal bagaimana kita menjaga ingatan kolektif agar tidak hilang,” imbuhnya.
Sejak pertama kali digagas, Rangkasbitung Corner telah melahirkan tiga seri pertunjukan penting, yakni Gebar, Regent (Adipati Kartanatanegara), dan Sandekala.
Masing-masing karya menjadi semacam jendela untuk menengok kembali perjalanan sejarah Banten dari sudut yang jarang disentuh.
“Pada seri ketiga, Sandekala, Teater Guriang mengangkat sosok Uwes Qorny. Nama ini mungkin tidak sepopuler figur-figur lain dalam sejarah daerah,” tuturnya.
“Tetapi jejak perjuangannya begitu lekat dalam proses lahirnya Provinsi Banten,” sambung seniman yang akrad disapa Majid ini.
Reporter : Nurandi
Editor: Agung S Pambudi











