SERANG,RADARBANTEN.CO.ID-Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (ILPM) di Kota Serang anjlok, jika dibandingkan dengan daerah lainnya yang ada di Provinsi Banten.
Berdasarkan data pada laporan akhir kajian Perpustakaan Nasional (Perpusnas) tahun 2023, pencapaian nilai IPLM Provinsi Banten sebesar 52,50 masuk kategori sedang.
Sementara untuk persentase kabupaten kota dengan pencapaian IPLM tertinggi di peringkat pertama ada Kota Cilegon sebesar 58,16 persen, Tangerang Selatan 54,69 persen, Kota Tangerang 54,25 persen.
Tiga kabupaten kota lainnya dengan pencapaian IPLM terendah berada di Kabupaten Tangerang 49,93 persen, Kabupaten Serang 47,83 persen, dan Kota Serang 46,76.persen.
Penilaian itu dilakukan oleh beberapa unsur pembangunan literasi masyarakat (UPLM), seperti pemerataan layanan perpustakaan (UPLM 1), ketercukupan koleksi perpustakaan (UPLM 2), dan ketercukupan tenaga perpustakaan (UPLM 3), serta tingkat kunjungan masyarakat per hari (UPLM 4).
Dari data di atas tersebut, Kota Serang menduduki peringkat paling terakhir jika dibandingkan dengan dua kabupaten lainnya yang masuk kategori rendah.
Menanggapi itu, Duta Baca 2023 Kota Serang, Lailatul Maulidiya Rahman mengatakan, penurunan IPLM di Kota Serang sangat disayangkan, khususnya terhadap tingkat kunjungan masyarakat yang berkaitan dengan minat baca.
“Tentunya menyayangkan, karena IPLM tahun 2022 itu penilaiannya cukup tinggi. seharusnya dari Dinas Perpustakaan bisa melakukan inovasi untuk menarik minat masyarakat,” ujarnya, Jumat 28 Juni 2024.
Dia meminta, Pemkot Serang harus melakukan koreksi agar minat baca di Kota Serang kembali meningkat, khususnya pada data IPLM. Terlebih, penilaian tersebut merupakan tolok ukur literasi di suatu daerah yang dilakukan oleh Perpusnas.
“Kota Serang minim terhadap tingkat kunjungan masyarakat, dengan nilai 0,0187, dan itu paling kecil dari daerah lainnya,” katanya.
Dengan adanya penilaian itu, pihaknya meminta agar Pemkot Serang mencari solusi dan inovasi melalui berbagai kegiatan yang menyasar ke masyarakat, tidak hanya anak sekolah saja.
“Itu menjadi catatan dan evaluasi seharusnya, karena sebenarnya bangunan itu sudah sangat layak, tapi masyarakat banyak yang belum tau. Walaupun memang ada kunjungan rutin dari sekolah-sekolah, padahal bukan hanya sekolah yang bisa diandalkan,” ucapnya.
Reporter: Nahrul Muhilmi
Editor: Agung S Pambudi











