SERANG,RADARBANTEN.CO.ID- Masyarakat yang tinggal di Desa Lontar, Kecamatan Tirtayasa, Kabupaten Serang, membudidayakan rumput laut jenis Glasiralia atau yang biasa disebut masyarakat sekitar sebagai rumput empang.
Budidaya rumput laut Gracilaria sendiri dilakukan dengan sistem polikultur, dimana di dalam empang terdapat tiga jenis yang dibudidayakan mulai dari bandeng, udang dan rumput laut Glasiralia.
Sekretaris Dinas Perikanan (Diskan) Kabupaten Serang, Rochyan Aglan mengatakan, ada dua jenis rumput laut yang dibudidayakan oleh para petani di Kabupaten Serang yakni Gracilaria dan Kotoni.
“Untuk Gracilaria dibudiayakan di dalam empang secara polikultur, ini tersebar di tiga kecamatan yakni Pontang, Tirtayasa dan Tananra, kalau untuk Kotoni di pesisir pantai dibudidayakan di pesisir pantai Lontar,” katanya, Minggu 7 Juli 2024.
Ia mengaku jika produksi untuk rumput laut Gracilaria Kabupaten Serang, memiliki jumlah produksi yang paling tinggi se-Provinsi Banten. Dimana mencapai 40 ribu ton setiap tahunnya. “Karena untuk Tangerang sudah mulai ada alih fungsi lahan, makanya kabupaten serang ini paling tinggi se-Banten,” tegasnya.
Di Kabupaten Serang Sendiri, ada sebanyak 1.350 hektare lahan yang digunakan untuk membudidaya bahkan baku untuk pembuatan agar-agar tersebut secara polikultur.
“Tentunya dengan sistem polikultur akan mampu mendongkrak produksi, selain produksi rumput laut tapi ikan dan juga udang,” tegasnya.
Ia mengatakan, adanya masyarakat yang membudidayakan rumput laut gracilaria membuka peluang ekonomi bagi masyarakat di sekitar. Pasalnya, banyak masyarakat yang terlibat dalam proses penanaman, panen, penjemuran hingga nantinya penjualan. Untuk harga sendiri, gracilaria per kilogramnya berkisar Rp5-7 ribu rupiah.
“Biasanya kan yang nanam itu ga punya empang, dia kerjasama dengan yang punya empang. Lalu ada tim yang panen nanti, ada tim yang menjemur sampai ada tim yang ngangkut. Lalu di gudang ada tim yang peking lagi, jadi penyerapan tenaga kerjanya luar biasa,” terangnya.
Sementara itu, untuk periode tanam hingga panen, berkisar 40 hari, dimana selama penebaran bibit Bandeng, bisa melakukan dua kali panen untuk rumput laut gracilaria.
Lebih lanjut, ia mendorong agar nantinya gracilaria tersebut tidak hanya dijual dalam bentuk kering, tetapi juga dijual dalam bentuk olahan, sehingga makin meningkatkan perekonomian masyarakat dan membuka lapangan pekerjaan lebih luas lagi.
“Tentunya kita harapkan agar nanti bisa dibuat dalam bentuk olahan sehingga bisa memberikan nilai tambah bagi masyarakat,” pungkasnya.
Sementara itu, salah seorang warga lontar yang bekerja sebagai tukang panen rumput laut grcilaria Kaswari mengaku jika dirinya biasanya diberi ongkos sebesar Rp1.500 per kilogramnya rupiah untuk rumput laut kering.
“Biasanya setengah bulan itu dapet 5 kwintal, yang kering, nanti ada yang dateng bakulnya ngambil,” tegasnya.
Ia mengaku jika ada sejumlah kendala yang dialami oleh pembudidaya rumput laut jenis Gracilaria. Salah satunya ialah ketika musim hujan tiba.
“Kalau hujan susah, kan ga bisa jemur. Selain itu jelek juga ke panen nya kalau musim hujan. Terus kalau air empangnya ga ngalir, itu jelek juga ke panen,” pungkasnya. (*)
Editor: Bayu Mulyana











