SERANG,RADARBANTEN.CO.ID-Pusat Studi dan Informasi Regional (PATTIRO) Banten bersama Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Kependudukan dan Keluarga Berencana (DP3AKKB) Provinsi Banten dan Merck Family Foundation memberikan apresiasi terhadap Pemerintah Daerah (Pemda) yang telah melakukan inovasi penanganan stunting di daerah.
Apresiasi itu diberikan dalam lokal karya dan penghargaan inovasi stunting 2024 yang bertajuk ‘Bangun Kolaborasi untuk Banten Bebas Stunting’di dgriya hotel, Kota Serang, Kamis 25 Juli 2024.
Deputi Direktur PATTIRO Banten Amin Rohani mengatakan, penghargaan ini diberikan kepada Pemda yang telah secara inovatif melakukan gerakan penanganan stunting.
Sedikitnya terdapat enam fanelis yang mendapatkan penghargaan, salah satunya yaitu Nurul Lathifah, seorang ahli gizi di Puskesmas Bojong Kamal, Kecamatan Legok, Kabupaten Tangerang. Nurul mempunyai inovasi bernama Mama Centing alias Makan Bersama Cegah Stunting.
Inovasi ini merupakan sebuah program pemberdayaan keluarga untuk mencegah stunting dengan mengajak orang tua untuk makan bersama anak-anaknya.
“Acara ini sengaja kita lakukan, guna mengekspose ragam inovasi yang berkaitan pencegahan stunting kepada masyarakat luas. Kita ingin inovasi ini menjadi contoh, untuk bagaimana bergerak bersama mencegah stunting,” katanya.
Berdasarkan data SSGI, pada tahun 2021 prevalensi stunting di Banten sebesar 24,5 persen dan pada tahun 2022 prevalensi stunting turun menjadi 20 persen, turun sebesar 4,5 persen dibandingkan tahun 2021.
Ia berharap, inovasi-inovasi seperti Mama Centing ini dapat direplikasi dan diterapkan oleh daerah-daerah lain.
Hadir dalam acara, Plh Sekda Banten Virgojanti mengatakan, loka karya dan penghargaan ini diberikan kepada para inovator yang bekerja keras dalam rangka mengakselerasi penurunan stunting di Provinsi Banten. Ia berharap, penghargaan ini dapat menjadi pemantik semangat banyak orang dalam penanganan stunting.
“Tentunya hal ini saya mengapresiasi karena tidak menutup kemungkinan upaya-upaya yang kita lakukan dalam rangka menurunkan juga bagian atau kontribusi dari para inovator-inovator tersebut,” kata Virgo.
Jadi, inovasi itu tujuannya dalam rangka mendekatkan dan memudahkan pelayanan, agar bisa menjadi motivasi hingga praktek bagi wilayah-wilayah lain. Menurutnya, masalah stunting tidak bisa dipandang remeh, karena menyangkut tumbuh kembang anak yang tentunya akan berdampak pada masa depan bangsa ini.
Maka dari itu, stunting ini menjadi suatu masalah bersama yang tidak bisa diselesaikan oleh satu bidang atau satu organisasi perangkat daerah saja, melainkan perlu kolaborasi dari semua pihak.
Lebih jauhnya Virgo mengungkapkan, Pemprov Banten beberapa hari yang lalu telah melakukan penimbangan serentak di setiap Posyandu yang ada di Banten. Hasilnya, pihaknya menemukan hanya tinggal 4,7 persen saja angka stunting di Banten.
“Alhamdulillah berdasarkan hasil penimbangan kemarin angka stunting kita sudah dibawah rata-rata nasional, yaitu 14 persen. Semoga dengan adanya gerakan dari semua pihak masalah stunting ini dapat kita entaskan, guna mewujudkan generasi yang unggul dimasa depan,” imbuhnya.
Terpisah, Anggota DPRD Banten Fitron Nur Ikhsan mengapresiasi kolaborasi inovasi stunting di Banten yang saat ini sudah berjalan dengan baik antar lintas sektoral.
“Kolaborasi saat ini sudah berjalan dengan baik, sekarang tinggal bagaimana cara Pemerintah untuk menanganani angka kemiskinan ekstrem juga kawasan kumuh, yang tentunya merupakan salah satu faktor stunting,” pungkasnya. (*)
Reporter : Yusuf Permana
Editor: AGung S Pambudi











