PANDEGLANG, RADARBANTEN.CO.ID – Tak hanya memadamkan kebakaran hingga evakuasi korban bencana, anggota Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) pun memiliki tugas lain. Salah satunya menangkap binatang-binatang liar yang mengganggu masyarakat. Seperti ular, biawak, dan hewan lainnya.
Tak jarang setiap anggota BPBD pun memiliki kisah beragam ketika menjalankan tugas tersebut. Seperti cerita anggota di BPBD Pandeglang dan Kepala Bidang Badan Penanggulangan Bencana Daerah dan Pemadam Kebakaran (BPBD-PK) Pandeglang, Endan Permana
Endan Permana menceritakan banyak kisah menarik yang sering dijumpai anggota BPBD saat menangani reptil liar di wilayah Kabupaten Pandeglang.
“Ya, untuk sementara ini BPBD itu penanganannya bukan hanya kebakaran aja jadi harus multitalenta, termasuk laporan yang datang dari masyarakat seperti penanganan tawon, ular, dan sebagainya,” ungkapnya, Kamis 1 Juli 2024.
Endan Permana menceritakan pengalaman aneh yang dialami anggota BPBD saat menangani ular piton sepanjang 4 meter di Ciherang pada tahun 2023. Ular yang berhasil dievakuasi dibawa ke kantor BPBD. Namun, anggota yang menangkap ular tersebut bermimpi ular itu meminta dikembalikan ke asalnya.
“Kejadiannya tahun lalu, saat penanganan ular piton, ular tersebut dibawa ke kantor dan dimasukkan ke kandang sebelum diserahkan ke BKSDA Provinsi Banten. Anggota yang menangkap ular itu, Pak Lili, selama dua hari dua malam bermimpi ular tersebut meminta dikembalikan,” tuturnya.
“Karena teman-teman juga merasa ada firasat tidak enak, akhirnya keesokan harinya ular tersebut dikembalikan ke asalnya. Sampai sekarang, ular itu tidak pernah muncul lagi,” sambungnya.
Ia pun mengaku jumlah laporan terkait masuknya ular ke rumah warga meningkat saat musim penghujan. Hal ini karena ular mencari tempat lembap atau nyaman untuk berlindung.
“Biasanya saat musim penghujan, laporan terkait ular yang masuk ke rumah warga meningkat. Ular-ular ini mencari tempat lembap atau nyaman untuk berlindung,” jelas Endan.
Selain itu, laporan terkait evakuasi sarang tawon juga sering diterima. Setiap kali melakukan evakuasi, ratu tawon tak pernah terlihat, membuat anggota BPBD bertanya-tanya.
“Anggota kami sering menanyakan soal evakuasi tawon. Tawon itu kan pasti ada induknya atau ratu. Namun, setelah sarang tawon diamankan, ratu tawon tersebut tidak pernah terlihat. Padahal, tawon atau lebah pasti ada ratunya, tapi setelah dilihat, nggak pernah ada,” ucapnya.
Ia menjelaskan terkadang ada kejadian aneh saat anggotanya mengevakuasi ular, di mana ular tiba-tiba hilang saat berada di lokasi. Barang-barang di sekitar lokasi terpaksa diangkat, namun ular tetap tidak ditemukan.
“Jadi anggota sempat membongkar-bongkar barang yang menumpuk, tapi tetap nggak ada ularnya. Hilang begitu saja,” ujarnya.
Menurutnya, dalam sebulan BPBD menerima 5 hingga 7 panggilan warga untuk penangkapan ular. Terkadang warga pun mengevakuasi ular secara mandiri karena BPBD pernah mengadakan pelatihan kepada warga di kecamatan-kecamatan.
“Itu juga masyarakat sudah bisa ngambil sendiri. Alhamdulillah, masyarakat kalau nangkap sendiri suka nganterin ke sini, kadang dijemput BPBD untuk diserahkan ke BKSDA,” pungkasnya.
Editor: Abdul Rozak











