PANDEGLANG, RADARBANTEN.CO.ID – Pemerintah Kabupaten Pandeglang bakal mendapatkan investasi senilai Rp2.041 Triliun dari investor asal Negara Malaysia.
Investasi senilai Rp2.041 Triliun itu berupa pembangunan lahan pertanian, perumahan, industri manufaktur, pariwisata hingga bandara Internasional.
Pengusaha asal Malaysia yang memastikan akan menanamkan investasi yaitu Sri Datuk Abdul Majid. Adapun titik lokasi menanamkan investasinya itu di Pandeglang selatan. Termasuk lima kawasan Industri serta Kawasan Ekonomi Khusus Panimbang dan juga Kecamatan Sobang.
Staf Ahli Bupati Pandeglang Bidang Kemasyarakatan dan Sumber Daya Manusia, Goenara Drajat mengatakan, setelah dimulainya pembangunan Jalan Tol Serang-Panimbang, Kabupaten Pandeglang menjadi incaran investor.
“Yang terbaru, Pengusaha asal Malaysia berencana akan menanamkan investasi senilai Rp2.041 Triliun,” katanya kepada RADARBANTEN.CO.ID, Senin, 30 September 2024.
Nilai investasi ini sangatlah besar. Saat ini sudah mulai berjalan. “Kami tentu menyambut baik rencana investasi Sri Datuk Abdul Majid di Pandeglang,” katanya.
Semoga saja, rencana investasi itu dapat diterima dengan baik oleh seluruh lapisan masyarakat. Jadi kehadiran investor dapat diterima baik. “Karena akan memberikan efek domino yang positif. Membuka lapangan pekerjaan, perekonomian berjalan baik,” katanya.
Kalau dari hasil komunikasi sudah terbangun saat ini, konsepnya sangat bagus. Artinya anggaran sebesar itu sudah disiapkan keperuntukannya.
“Mereka berencana akan mengawali investasi sebesar Rp10 Triliun untuk membangun Bandara Internasional Tajimalela Ujung Kulon. Titik lokasinya di Kecamatan Sobang,” katanya.
Titik lokasi Sobang-Panimbang itu sesuai titik koordinat hasil dari kajian Kementerian Perhubungan. “Terkait pembangunan Bandara ini mereka sudah menjalin MoU dengan PT BAS (Banten Agung Sarana) dengan PT PPM. Nah PT PPM ini komisarisnya yang pengusaha dari Malaysia,” katanya.
Investasi senilai Rp10 Triliun ini di MoU kan dengan PT BAS. Selaku pelaksananya. “Biaya sebesar itu untuk biaya pembebasan lahan serta pembangunan infrastrukturnya. Termasuk pembangunan perumahan,” katanya.
Selain berinvestasi pembangunan Bandara, mereka akan berinvestasi di lima kawasan industri sudah ditetapkan oleh Pemkab Pandeglang. Memiliki luas kurang lebih 1.100 hektare tersebar di Kecamatan Bojong, Pagelaran, Sukaresmi, Cikeusik, dan Kecamatan Cibitung. “Nah nanti diantara Cikeusik dengan Kecamatan Wanasalam (Kabupaten Lebak) akan dibangun sebuah dermaga,” katanya.
Goenara mengungkapan, dengan adanya rencana itu tentunya akan mendongkrak perekonomian Pandeglang berkembang pesat. Terbukanya investasi dan lapangan pekerjaan.
“Kami tentu siap mendukung dan membantu dalam segala proses perizinan, maupun yang lainnya. Yang memang berkaitan dengan kebijakan pemerintah daerah,” katanya.
Apalagi, saat ini Pemkab Pandeglang sudah memiliki Perda tentang Pemberian Insentif dan Kemudahan Investasi bagi investor. “Ya tentu akan kita bantu sesuai aturan yang berlaku,” katanya.
Pengusaha asal Malaysia Sri Datuk Abdul Majid mengatakan, target investasi di Pandeglang sudah lama digagas bersama pimpinan dari PT Banten Agung Sarana (BAS) Uneh Junaedi. “Model investasi berupa Kota Satelit Banten, yang ditopang oleh berbagai industri. Mulai dari industri agro, perikanan, wisata maupun manufaktur,” katanya.
Presiden Direktur PT BAS Uneh Junaedi mengungkapkan, kalau proyek investasi Sri Datuk Abdul Majid di Banten, khususnya di Pandeglang selatan dimulai dengan pembangunan Bandara Internasional Tajimalela Ujung Kulon. “Dengan nilai investasi sebesar Rp10 Triliun. Dari total target investasi Sri Datuk Abdul Majid sebesar Rp2.014 Triliun,” katanya.
Konsep investasi berupa Kota Satelit Banten diawali dengan pembangunan Bandara Internasional Tajimalela Ujung Kulon. Alokasi anggaran sebesar Rp10 Triliun untuk biaya pembebasan dan relokasi penduduk terdampak hingga relokasi lahan pertanian produktif.
“Pihaknya akan menyiapkan lahan pertanian terpadu seluas 1500 hektar yang diluar dari lahan pertanian produktif yang terdampak proyek Bandara. Itu (lahan pertanian seluas 1.500 hektar) sebagai pendukung dari proyek Kota Satelit Banten,” katanya.
Editor: Abdul Rozak











