KABUPATEN TANGERANG, RADARBANTEN.CO.ID – Kecelakaan tragis pesawat perintis SAM AIR di Gorontalo, yang merenggut nyawa Pilot Saefurubi, menyisakan duka mendalam bagi keluarga korban, terutama sang kakak, Syaifuddin. Selain berduka atas kehilangan adiknya, Syaifuddin mengenang perjuangan Saefurubi dalam mewujudkan cita-citanya sebagai penerbang.
“Almarhum adalah orang yang gigih. Dia menabung dari gaji sebagai Flight Operation Officer (FOO) untuk biaya sekolah penerbangan. Dari dulu, dia memang bercita-cita menjadi pilot,” ujar Syaifuddin, Senin, 21 Oktober 2024.
Menurut Syaifuddin, Saefurubi adalah sosok yang dikenal aktif dalam kegiatan keagamaan di Masjid At-Taqwa, CitraRaya, Kabupaten Tangerang, dan sangat bertanggung jawab kepada istri dan anak-anaknya. Perjalanan kariernya dimulai dengan bekerja di maskapai Trigana Air sebelum akhirnya bergabung dengan SAM AIR.
“Dia bahkan meminta saya mengurus izin dari perusahaan tempat dia bekerja saat itu untuk bisa bersekolah penerbangan. Alhamdulillah, izinnya diberikan, dan dia pun berhasil mewujudkan impiannya,” tambahnya.
Sebelum kecelakaan, Saefurubi sempat memberi kabar bahwa ia akan pulang pada hari Selasa. Namun, takdir berkata lain. “Dia sudah menyiapkan penggantinya untuk terbang, tapi nyawanya harus diambil sebelum hari yang dijanjikan,” ungkap Syaifuddin dengan suara bergetar.
Terkait penyebab jatuhnya pesawat, Syaifuddin menyatakan bahwa Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) akan melakukan investigasi di lokasi kejadian.
“Besok KNKT akan ke Gorontalo untuk memeriksa lebih lanjut penyebab kecelakaan ini,” katanya.
Syaifuddin menambahkan bahwa almarhum meninggalkan seorang istri dan dua anak. Pesawat SAM AIR yang dioperasikan Saefurubi merupakan pesawat perintis yang melayani rute domestik di Gorontalo dan sekitarnya, dengan kapasitas 18 penumpang.
“Saefurubi sudah berencana pulang, tapi Allah berkehendak lain. Kita semua hanya bisa menerima dengan lapang dada,” pungkasnya.
Editor : Merwanda











