PANDEGLANG,RADARBANTEN.CO.ID-Ketua Komisi IV DPRD Kabupaten Pandeglang Tb Udi Juhdi meminta kepada Balai Besar Wilayah Sungai Cidanau Ciujung dan Cidurian (BBWSC3) melanjutkan program pembangunan tanggul penanggulangan banjir luapan Sungai Cilemer.
Pembangunan tanggul sangat penting untuk meminimalisir terjadinya banjir besar melanda Kecamatan Patia, Pagelaran dan Kecamatan Sukaresmi, Kabupaten Pandeglang.
Ketua Komisi IV DPRD Kabupaten Pandeglang Tb Udi Juhdi mengatakan, kalau ia melihat bahwa terjadinya bencana banjir disebabkan belum selesainya program pembangunan tanggul sungai Cilemer.
“Sampai hari ini program tanggul itu belum terselesaikan secara menyeluruh. Sehingga menyebabkan air sungai Cilemer mudah meluap merendam permukiman,” katanya kepada RADARBANTEN.CO.ID, Jumat 20 Desember 2024.
Luapan sungai Cilemer menyebabkan, permukiman dan lahan pertanian warga terendam parah saat musim hujan. Khususnya di Kecamatan Patia, Pagelaran dan Sukaresmi.
“Tiga kecamatan ini termasuk wilayah terparah setiap kali terjadi banjir dari luapan Sungai Cilemer. Khususnya Kecamatan Patia yang banjir kemarin termasuk yang terparah karena tujuh desa terendam,” katanya.
Ketujuh desa yang terendam yaitu Desa Idaman, Desa Rahayu, Desa Surianeun, Desa Ciawi, Desa Cimoyan, Desa Babakan Keusik dan Desa Patia. Dari tujuh desa itu yang terparah ialah Desa Idaman dan Desa Rahayu.
“Kondisi ini tentunya harus segera ditangani. Dengan melanjutkan kembali program pembangunan tanggul Sungai Cilemer,” katanya.
Tb Udi mengungkapkan, dalam beberapa tahun ini tidak ada program lanjutan untuk tanggul. Padahal ketika memang perencanaan itu terencana dan terukur program itu penanggulan bisa dilanjutkan.
“Karena ada beberapa titik yang saya lihat seperti di Desa Cikuya (Kecamatan Sukaresmi) sebelum ditanggul itu luar biasa. Alhamdulillah setelah ditanggul pinggir kali tidak kebanjiran lagi,” katanya.
Terkait pembangunan tanggul ini juga masuk dalam aspirasi disampaikan dari masyarakat di Desa Idaman. Termasuk kepala Desa Idaman Ilman , minta tanggul itu diselesaikan.
“Karena Desa Idaman salah satu desa belum terselesaikan tanggulnya. Yang waktu banjir kemarin satu desa terendam karena luapan sungai Cilemer,” katanya.
Kepala Desa Idaman, Ilman mengatakan, setiap kali banjir menyebabkan rumah dan akses jalan Desa Idaman terputus.
“Banjir merendam wilayah Desa Idaman ini sumber utamanya dari luapan Sungai Cilemer dan Sungai Cimoyan,” katanya.
Kondisi ini perlu mendapatkan perhatian dari pemerintah. Khususnya pemerintah pusat karena untuk menanggulanginya dibutuhkan biaya besar.
“Kalau menurut saya secara pribadi, pemerintah perlu membangun tanggul penanggulangan banjir,” katanya.
Tanggul penanggulangan banjir dapat dibangun di sepanjang Sungai Cilemer. Kalau menurut perkiraannya kurang lebih kalau ditarik lurus itu 10 kilometer namun karena alur sungai berkelok maka kurang lebih sepanjang 20 kilometer.
“Tanggul ini jika dibangun maka dapat mengurangi resiko banjir besar. Dikarenakan luapan aliran Sungai Cilemer tidak langsung meluap ke permukiman tetapi tertahan oleh tanggul,” katanya.
Keberadaan tanggul ini, dapat dilihat di Citundun, Kampung Kramat. Setelah ada tanggul sekalipun memang banjir tetapi tidak besar karena memang ketinggian air dikendalikan dari pintu air.
“Jadi sekalipun banjir tidak terlalu besar dan arusnya tidak kencang,” katanya.
Selain tanggul, tentunya diperlukan juga pengerukan sedimen lumpur. Khususnya di bagian muara menuju laut.
“Sebab banjir sekarang ini lama surutnya. Sampai berhari-hari,” katanya.
Ilman berharap, pemerintah juga memberikan bantuan berupa perahu karet yang dilengkapi mesin. Minimal tiga unit perahu.
“Kenapa kami butuh karena kan menjadi daerah langganan banjir. Nah ketika banjir terjadi kami tidak mengalami kesulitan saat akan membawa warga sakit atau hal lain,” katanya.
Minimal, diungkapkan Ilman, jumlah perahu tiga unit.
“Yang nanti disiagakan di tiga kampung yang memang saat banjir menjadi titik terparah. Kedalamannya bisa sampai dua meter maka untuk evakuasi warga kami tidak harus teriak-teriak minta bantuan tetapi sudah bisa melakukan evakuasi mandiri,” katanya.
Reporter: Purnama Irawan
Editor: Agung S Pambudi











