LEBAK, RADARBANTEN.CO.ID – Menjelang perayaan Tahun Baru Imlek 2025, usaha pembuatan dodol di Rangkasbitung, Kabupaten Lebak, mulai kebanjiran pesanan.
Dodol khas masyarakat Tionghoa ini menjadi pilihan utama untuk hantaran dan suguhan saat merayakan Imlek.
Salah satu pengrajin dodol legendaris di Rangkasbitung adalah keluarga Uung. Sejak tahun 1980, mereka telah memproduksi dodol secara turun-temurun di rumah mereka yang terletak di Kampung Bang Arum, Desa Jatimulya, Kecamatan Rangkasbitung.
Pembuatan dodol ini hanya berlangsung setahun sekali, tepatnya saat menjelang Imlek.
“Dua minggu sebelum Imlek, kami mulai memproduksi dodol. Kami hanya membuat dodol saat Imlek saja, karena pesanan memang datang hanya pada waktu ini. Sudah 40 tahun menjadi pengrajin. Jadi setiap momen imlek, iya membuatnya, momen Imlek aja, dipesan ke Sukabumi dan Pangdeglang,” ujar Pince saat berada di rumahnya, Rabu, 22 Januari 2025.
“Banyak yang pesan memang. Nanti yang pesan pada ngambil ke sini. Ini satunya, satu gulung ini 25. Dodol duren sama original, ada dua rasa aja,” lanjutnya.
Setiap harinya, Pince dan istrinya bisa menghasilkan hingga 25 kilogram dodol. Mereka membuat dodol dalam dua sesi, yakni pada pukul 01.00 WIB dan pukul 09.00 WIB.
Satu adonan dodol memakan waktu sekitar lima jam untuk diproses, mulai dari pengadukan hingga pengemasan.
Dodol produksi keluarga Pince sangat diminati, baik oleh warga Rangkasbitung maupun pembeli dari luar kota seperti Pandeglang, Serang, Bogor, dan Sukabumi.
Dia menyebutkan bahwa dodol kemasan buatan mereka memiliki rasa yang khas dan digemari oleh banyak orang.
“Dodol di sini memang terkenal enak dan khas, kata banyak pembeli. Kami menjualnya dalam kemasan, satu potong dodol dihargai Rp 20.000,” katanya.
Bagi masyarakat Tionghoa, dodol adalah penganan yang wajib ada saat Imlek dan Cap Go Meh. Biasanya, dodol digunakan sebagai hantaran antar warga atau bahkan untuk persembahan kepada leluhur yang telah meninggal.
Dodol buatan keluarga Uung tersedia dalam dua varian rasa, yaitu original dan durian. Menurut mereka, kedua rasa ini selalu laris manis menjelang perayaan Imlek.
Editor: Agus Priwandono











