LEBAK, RADARBANTEN.CO.ID – Puluhan hektare tanaman cabai di Kampung Cibangkur, Desa Sukarendah, Kecamatan Warunggunung, Kabupaten Lebak, mengalami gagal panen. Cuaca ekstrem dalam beberapa bulan terakhir menjadi salah satu penyebab.
Kejadian ini mengakibatkan para petani mengalami kerugian besar. Tanaman cabai mereka rusak.
Roup Arta, salah satu petani, menjelaskan bahwa meskipun mereka telah berusaha semaksimal mungkin dalam merawat tanaman cabai, cuaca yang tak menentu justru membuat hasil panen tahun ini jauh dari harapan.
“Awal-awal panen harganya sempat turun hingga Rp 8 ribu per kilogram, karena banyak yang panen serentak,” ujarnya kepada Radarbanten.co.id, Jumat, 24 Januari 2025.
Fenomena serupa juga dialami oleh petani di sejumlah desa lainnya di Kabupaten Lebak, dengan cuaca ekstrem yang terus berulang dan berdampak langsung pada hasil pertanian mereka.
Roup menambahkan bahwa tahun ini merupakan yang paling sulit bagi mereka. Selain kehilangan waktu dan tenaga, mereka juga harus menanggung kerugian besar dari modal yang telah mereka keluarkan untuk bertani.
Sementara itu, harga cabai yang melonjak tinggi, mencapai Rp 80 ribu per kilogram, diakibatkan oleh banyaknya cabai yang gagal panen.
Roup menjelaskan, cabai keriting merah yang mereka tanam banyak yang mati, membusuk, hingga mengering.
“Ada yang busuk buahnya, batangnya pun banyak yang mati,” jelasnya.
Dia berharap adanya perhatian dari pemerintah untuk membantu meringankan beban petani yang semakin terpuruk akibat perubahan iklim yang tak menentu.
“Kami butuh solusi untuk menghadapi dampak perubahan iklim yang semakin merugikan sektor pertanian,” katanya.
Harga cabai yang saat ini masih di angka Rp 60 ribu hingga Rp 80 ribu per kilogram, semakin memberatkan konsumen dengan harga cabai oranye menjadi yang tertinggi.
Namun, di beberapa daerah, harga cabai justru lebih mahal lagi, seiring kekhawatiran akan kelangkaan pasokan akibat gagal panen yang meluas.
Editor: Agus Priwandono











