LEBAK, RADARBANTEN.CO.ID- Sandekala Institute memperingati satu abad kelahiran Pramoedya Ananta Toer, salah satu penulis terbesar yang memberikan kontribusi luar biasa terhadap perkembangan sastra Indonesia dan pemikiran politik di Indonesia.
Peringatan satu abad kelahiran Pramoedya Ananta Toer dengan menggelar diskusi dengan tajuk “Membaca Ulang Pram : Refleksi Satu Abad” di Pendopo Museum Multatuli, Kamis 5 Februari 2025.
Karya-karya Pram, terutama dalam trilogi Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, dan Jejak Langkah, menyajikan realitas sosial dan politik Indonesia dengan kedalaman yang luar biasa. Namun, Pram lebih bukan sekadar seorang penulis, namun ia adalah simbol perlawanan terhadap ketidakadilan dan penindasan.
Nedi Suryadi, Direktur Sandekala Institute, mengatakan, Pram bukan hanya penulis, melainkan seorang pemikir yang mampu menembus batas-batas zaman.
“Pram menulis dengan cara yang tidak hanya menggugah pembaca secara emosional, tetapi juga memicu mereka untuk berpikir kritis terhadap kondisi sosial-politik yang ada,” kata Nedi saat berada di Museum Multatuli, Kamis 6 Februari 2025.
Nedi juga menyatakan bahwa salah satu kekuatan terbesar dari tulisan-tulisan Pramoedya adalah kemampuannya menggali sejarah Indonesia dengan perspektif yang lebih dalam dan kritis. Karya-karya seperti Bumi Manusia memberikan gambaran jelas tentang kolonialisme dan perlawanan terhadap penindasan, serta bagaimana kebebasan dan martabat manusia dipertaruhkan dalam perjalanan panjang bangsa Indonesia.
“Karya-karya Pram, seperti tetralogi Pulau Buru, Nyanyian Sunyi Seorang Bisu, dan karya-karya populer Pram lainnya, menggambarkan perbudakan kaum pribumi. Tetapi karya-karya Pram mengilhami kita bahwa perbudakan bukanlah sebuah kutukan,” ujarnya.
“Pram mengajak kita untuk mengasuh keberanian menjadi seorang manusia merdeka. Ini penting untuk kita refleksikan. Banten menjadi salah satu catatan penting bagi Pram. Pada tahun 1958, Pramoedya Ananta Toer menerbitkan novel Sekali Peristiwa di Banten Selatan. Melalui novel ini, Pram menggambarkan kondisi masyarakat Banten yang miskin, tak berdaya, rentan ditindas serta dikriminalisasi pada masa perjuangan kemerdekaan Indonesia,” sambungnya.
Sementara itu, Ubaidillah Mochtar, Kepala Museum Multatuli, mengaitkan karya-karya Pram dengan perjuangan Multatuli, seorang penulis Belanda yang juga berjuang melawan ketidakadilan melalui tulisannya, terutama melalui karya terkenalnya, Max Havelaar.
“Pram dan Multatuli memiliki kesamaan dalam cara mereka menggunakan tulisan sebagai bentuk perlawanan,” ungkap Ubaidillah.
Menurut Ubaidillah, meskipun keduanya berasal dari latar belakang yang berbeda, keduanya memiliki semangat yang sama dalam mengecam penindasan, baik oleh penjajah maupun oleh sistem sosial-politik yang tidak adil.
“Di museum ini, kita belajar tentang Multatuli yang menggunakan karyanya untuk mengubah cara orang melihat dunia. Pram melakukan hal yang sama dengan mengangkat tema-tema yang penuh kritik terhadap pemerintahan dan kondisi sosial pada zamannya,” tambahnya.
Editor : Aas Arbi











