CILEGON, RADARBANTEN.CO.ID – Walikota Cilegon, Robinsar, mengakui bahwa masa awal pemerintahannya dalam 100 hari terakhir belum mampu menunjukkan gebrakan besar.
Kondisi keuangan daerah yang mengalami defisit serta masih adanya utang warisan menjadi penghambat utama berbagai program prioritasnya.
Robinsar menyebut, saat ini pemerintah tengah fokus membangun fondasi awal, termasuk dengan melakukan pemetaan terhadap sumber-sumber Pendapatan Asli Daerah (PAD) serta efisiensi dalam pengelolaan anggaran.
“Memang kondisi hari ini, efisiensi dan defisit anggaran kemarin itu mau tidak mau agak memperlambat langkah kami. Tapi sekecil apa pun potensi PAD, akan kita maksimalkan,” ujar Robinsar usai menghadiri rapat paripurna bersama DPRD Kota Cilegon pada Senin, 21 April 2025.
Ia mencontohkan optimalisasi program Gubernur Banten sebagai salah satu upaya Pemkot Cilegon meningkatkan pemasukan, sekaligus menjaga stabilitas pendapatan daerah.
Robinsar juga menegaskan bahwa pemerintah tengah melakukan inventarisasi secara menyeluruh terhadap sektor-sektor potensial penghasil PAD, seperti retribusi parkir, pasar, dan pengelolaan sampah.
“Misalnya untuk retribusi sampah, kita sedang cari tahu persoalan dasarnya. Apakah butuh digitalisasi atau sistem baru. Kita petakan semua potensi dan kebocoran, lalu tindak lanjuti,” katanya.
Ia menambahkan, beban keuangan Pemkot juga masih terpengaruh oleh masalah warisan utang sebesar Rp20 miliar dari kasus fraud pada 2021 yang belum sepenuhnya terselesaikan.
Namun secara permodalan, Robinsar memastikan, kondisi keuangan daerah masih tergolong aman.
“Kita harus realistis dalam menentukan target. Kalau potensi besar, kita tingkatkan target PAD. Tapi kalau ternyata tak sesuai, maka target harus disesuaikan. Intinya, kita gali semua potensi yang ada,” imbuhnya.
Robinsar berharap dalam waktu dekat, tata kelola keuangan dan sistem pelaporan pendapatan dapat diperbaiki agar program-program prioritas bisa berjalan lebih cepat dan efektif.
Editor: Agus Priwandono











