CILEGON, RADARBANTEN.CO.ID – Aplikasi layanan publik milik Pemerintah Kota (Pemkot) Cilegon yang baru saja diluncurkan, Cilegon Juare Super Apps, mendapat sorotan tajam dari masyarakat. Aplikasi ini diluncurkan di PlayStore pada Selasa, 22 April 2025.
Salah satu warga sekaligus aktivis Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), Ali Misri, mengaku menemukan sejumlah kekurangan teknis dalam Cilegon Juare Super Apps.
Dia pun mempertanyakan kebermanfaatan fitur-fitur dalam aplikasi tersebut setelah mengunduh dan mencobanya langsung pada Kamis, 24 April 2025.
“Saya lihat pengumuman peluncuran aplikasinya di media sosial, lalu langsung coba download. Pas dibuka, memang tampilannya menarik, tapi ketika saya coba login, langsung muncul bug yang cukup fatal,” ungkap Ali.
Bug yang dimaksud adalah pada sistem login melalui kode OTP (One Time Password).
Menurutnya, aplikasi Cilegon Juare Super Apps meminta kode OTP enam digit, namun yang dikirimkan ke pesan WhatsApp hanya empat angka.
“Ini masalah mendasar. Masa aplikasi resmi dari pemerintah tapi fitur login-nya belum siap. Gimana masyarakat mau percaya?” tandas Ali.
Selain soal OTP, Ali juga menyoroti beberapa fitur dalam aplikasi Cilegon Juare Super Apps yang dia nilai mubazir dan tidak berpihak pada kebutuhan masyarakat luas. Salah satunya adalah menu CCTV yang menampilkan siaran langsung dari beberapa titik di kecamatan dan kelurahan.
“Saya pertanyakan manfaatnya bagi warga. CCTV ini pasti butuh anggaran besar, tapi sejauh mana kegunaannya untuk publik? Ini malah jadi pemborosan kalau tidak dimanfaatkan secara optimal,” ujarnya.
Fitur lainnya yang dipertanyakan adalah menu WiFi gratis.
Ali mengeluhkan bahwa aplikasi Cilegon Juare Super Apps hanya menampilkan lokasi WiFi publik tanpa memberikan akses atau informasi password kepada masyarakat umum.
“Tahu lokasinya tapi enggak bisa dipakai karena enggak tahu password. Akhirnya cuma jadi informasi yang enggak berguna bagi warga,” keluhnya.
Tak hanya itu, fitur-fitur seperti Info Loker dan Hibah juga disebut belum menampilkan data apa pun, yang membuat pengguna bingung apakah fitur tersebut memang aktif atau masih dalam tahap pengembangan.
Ali pun menyarankan agar Pemkot Cilegon fokus pada fitur yang benar-benar dibutuhkan masyarakat, seperti informasi dan pendaftaran beasiswa.
“Kalau ada fitur beasiswa, apalagi bisa langsung daftar dari aplikasi, itu akan sangat membantu masyarakat. Tapi kalau sekadar menampilkan menu yang kosong, ya sia-sia,” ujarnya.
Ia menyimpulkan bahwa peluncuran aplikasi ini terlalu terburu-buru dan belum layak dipublikasikan ke masyarakat luas.
“Aplikasi ini belum siap. Saya beri nilai kosong dulu, karena dari sisi kebermanfaatan masih sangat minim. Pemkot harus segera lakukan evaluasi total,” tegasnya.
Dengan munculnya kritik ini, diharapkan Pemkot Cilegon segera merespons cepat dan memperbaiki bug serta memperjelas fungsi-fungsi yang ada dalam Cilegon Juare Super Apps, agar ke depan benar-benar bisa menjadi aplikasi pelayanan publik yang bermanfaat dan ramah pengguna.
Editor: Agus Priwandono











