SERANG, RADARBANTEN.CO.ID – Jumlah kemiskinan ekstrem di Provinsi Banten masih sangat tinggi, bahkan masuk dalam delapan besar dengan jumlah paling banyak secara nasional.
Hal tersebut diungkapkan oleh Wakil Menteri Sosial (Wamensos) RI, Agus Jabo Priyono, saat menghadiri dialog dengan mahasiswa Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta) di Kabupaten Serang, Rabu, 23 April 2025.
Agus menyebut jika kemiskinan ekstrem secara nasional berjumlah 3,17 juta orang.
Katanya, jumlah kemiskinan ekstrem di Banten mencapai 3,23 persen dari jumlah total penduduk di Indonesia.
Hal itu diketahui dari data Badan Pusat Statistik (BPS) yang saat ini tengah menyusun Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN) 2025.
Presiden Prabowo Subianto pun menargetkan pengentasan kemiskinan ekstrem pada tahun 2026, dan kemiskinan akan turun di bawah lima persen pada tahun 2029.
Diketahui, Kemensos RI telah menganggarkan Rp 2,289 triliun Bantuan Sosial (Bansos) untuk warga miskin se-Provinsi Banten.
Anggaran itu untuk berbagai program Bansos, untuk 683.110 warga Banten yang masuk dalam data penerima manfaat.
Namun, Bansos itu bukan solusi. Kemensos RI tidak menginginkan jika warganya hanya menunggu bansos saja.
“Kita ingin masyarakat tidak terus-menerus mengandalkan bantuan sosial, tapi bisa mandiri dan sejahtera,” ujar dia.
Maka dari itu, Kemensos RI membutuhkan kolaborasi atau kerja sama semua pihak, termasuk dengan lembaga pendidikan dan para mahasiswanya untuk mewujudkan masyarakat yang mandiri.
Ia memandang bahwa mahasiswa merupakan agen perubahan yang memiliki peranan besar dalam merubah tantanan masyarakat, termasuk dalam pengentasan kemiskinan.
“Jadi dalam hal ini tentunya Kemensos kan tidak bisa kerja sendirian. Kita berkolaborasi dengan kementerian-kementerian yang lain, dengan lembaga-lembaga yang lain termasuk dengan kampus,” kata Agus.
Menurutnya, kampus memiliki lembaga pengabdian masyarakat dan desa binaan yang dapat dijadikan model pemberdayaan masyarakat secara langsung.
Editor: Agus Priwandono











