LEBAK, RADARBANTEN.CO.ID – Perajin golok dan pisau di Kampung Pulo Kempis, Desa Selaraja, Kecamatan Warunggunung, Kabupaten Lebak, mengalami lonjakan pesanan menjelang Hari Raya Idul Adha. Banyak konsumen yang memesan golok dan pisau untuk digunakan dalam ritual kurban.
Salah satu perajin golok, Amsori , mengatakan bahwa pesanan golok dan pisau meningkat signifikan menjelang Idul Adha.
“Alhamdulillah menjelang hari kurban ini ada peningkatan, biasanya saya produksi lima atau sepuluh buah setiap harinya, tetapi menjelang hari kurban ini selalu ada peningkatan, berdeda dengan hari-hari biasa,” kata Amsori saat berada di tempat pembuatan pisau dan golok, Minggu, 25 Mei 2025.
Amsori menuturkan, pada Idul Adha 2025 ini masyarakat lebih banyak memesan golok dan pisau untuk memotong hewan kurban. Karena, golok atau pisau ini menjadi peralatan wajib digunakan pada saat pemotongan hewan kurban.
“Ada golok, pisau, bervariasi sih, tapi untuk Lebaran Haji ini kebanyakan pesan pisau potong dan pisau rasah,” ujarnya.
Akibat banyaknya pesanan yang datang, Amsori mengaku kewalahan, bahkan dirinya terpaksa bekerja hingga larut malam.
“Saya produksi setiap hari, kadang keteteran juga, jadi kekurangan tenaga, sedangkan yang mau servis juga banyak, kadang-kadang sampai jam 12 malam,” tuturnya.
Amsori menambahkan, telah memanfaatkan teknologi online untuk memasarkan produknya.
“Kami telah membuat akun online untuk mempromosikan produk kami dan meningkatkan penjualan, mulai WhastApps dan Facebook ya,” pungkasnya.
Perajin golok dan pisau di Lebak dikenal karena keahlian mereka dalam membuat golok dan pisau yang berkualitas dan tahan lama.
Banyak konsumen yang memesan golok dan pisau dari Lebak karena kualitasnya yang baik dan harga yang kompetitif.
Di tengah gempuran barang-barang impor ataupun produksi massal dari pabrik, usaha pandai besi yang telah dilakoni puluhan tahun atau turun-temurun ini masih eksis.
Hampir setiap hari, suara- suara pukulan besi terdengar dari dapur rumah perajin yang tengah membuat golok dan pisau khas Lebak tersebut.
Editor: Agus Priwandono











