LEBAK, RADARBANTEN.CO.ID – Balai Taman Nasional Gunung Halimun Salak (BTNGHS) berhasil mengabadikan keberadaan dua macan tutul Jawa (Panthera pardus melas) di kawasan hutan lindung. Penampakan macan tutul Jawa yang terancam punah dan langka ini menjadi kabar baik bagi para pecinta satwa dan konservasi.
Melalui kamera penjebak yang dilakukan setelah pengecekan hasil pada tanggal 30 April 2025, satwa endemik pulau jawa ini terekam kamera pertama kali selang satu pekan setelah kamera trap dipasang oleh tim survei kontigensi BTNGHS pada tanggal 23 Februari 2025.
Macan tutul Jawa merupakan salah satu spesies yang dilindungi di Indonesia karena populasinya yang terus menurun akibat perusakan habitat dan perburuan liar.
Penampakan macan tutul Jawa di TNGHS menunjukkan bahwa kawasan hutan lindung masih menjadi habitat yang layak bagi satwa langka ini.
“Pentingnya menjaga kawasan TNGHS sebagai rumah dari sang top predator,” kata Budhi Chandra, Kepala Balai TNGHS, dalam keterang resminya, Senin, 26 Mei 2025.
Budhi juga turut serta dalam pelaksanaan kegiatan menyampaikan pentingnya menjaga kawasan TNGHS.
Dari hasil pemantauan tersebut, analisis visual awal menunjukkan dugaan keberadaan dua individu macan tutul Jawa, masing-masing dengan morfologi kumbang (hitam polos) dan tutul (berbintik).
Dari dua kamera yang dipasang, terdapat 28 bingkai foto yang merekam kemunculan macan tutul Jawa, dan 5.142 bingkai dokumentasi aktivitas wisata.
Temuan ini semakin memperkuat komitmen BTNGHS dalam menjaga keseimbangan antara konservasi dan aktivitas wisata alam.
Penampakan macan tutul Jawa ini juga menjadi bukti bahwa TNGHS masih memiliki kekayaan hayati yang luar biasa dan perlu dilindungi.
Oleh karena itu, BTNGHS akan terus melakukan upaya konservasi dan perlindungan bagi satwa langka ini.
Macan tutul Jawa termasuk dalam kategori critical endangered (sangat terancam punah), sehingga penampakan ini menjadi kabar baik bagi para pecinta satwa dan konservasi.
BTNGHS berharap, penampakan ini dapat meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya melestarikan satwa langka dan habitatnya.
Editor: Agus Priwandono











