CILEGON,RADARBANTEN.CO.ID – Komitmen, ulet, dan peduli nampaknya layak disandangkan untuk Ebok, jurnalis Kantor Berita Antara yang bertugas di Kota Cilegon.
Tiga kata itu tercermin dalam sikap perempuan dengan nama asli Susmiatun Hayati tersebut dalam menyebarluaskan semangat mengubah limbah minyak goreng bekas alias jelantah menjadi uang.
Perkenalan Ebok dengan penerapan gaya hidup ramah lingkungan itu dalam program kompetisi pengumpulan minyak jelantah yang merupakan bagian dari program MINYAKU, sebuah gerakan manajemen pengumpulan minyak goreng jelantah untuk lingkungan dari PT Chandra Asri Pasific.
Ebok yang awalnya hanya ingin sekedar barprtisipasi melihat nilai luhur dari program tersebut, yaitu menjaga lingkungan dengan cara yang paling sederhana dan sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari, sehingga Ia tergerak untuk menyebarluaskan nilai luhur tersebut.
“Ternyata kita sebagai ibu ibu bisa ikut menjaga lingkungan dengan cara yang sangat mudah dan menguntungkan, saya merasa emak-emak lainnya harus tahu progrm ini,” tutur Ebok.
Upaya Ebok dalam mengumpulkan minyak jelantah dan menyebarluaskan spirit meningkatkan kesadaran dan tindakan nyata dalam pengelolaan jelantah secara bertanggungjawab tidak gampang.
Awalnya, perempuan berkerudung tersebut melakukan sosialisasi pengelolaan jelantah mulai dari mulut ke mulut.
“Yang saya lakukan pertama adalah melakukan sosialisasi ajakan mengumpulkan minyak jelantah ke orang terdekat yakni kepada keluarga dan teman,” tutur Ebok.
Ebok kemudian melakukan ekspansi dengan mendatangi para pelaku usaha rumahan, pedagang gorengan, bubur ayam, hingga restoran siap saji.
Awalnya mengira upaya tersebut bisa mempermudah pengumpulan jelantah, ternyata sebaliknya karena sudah ada pengepul yang menjadi langganan para pelaku usaha tersebut, Ebok susah mendapatkan jelantah dalam jumlah besar.
Tak menyerah, perempuan kelahiran Kabupaten Serang, Provinsi Banten itu kemudian mencoba memanfaatkan grup Facebook.
“Alhamdulillah melalui komunikasi yang dibangun di medsos itu, gak sedikit pedagang, pelaku usaha dan restoran yang punya banyak minyak jelantah tapi bingung ke siapa menjualnya. Ada restoran cepat saji chicken, warung pecel lele, bubur ayam bahkan warga yang sudah memiliki kesadaran mengumpulkan minyak jelantah dari sisa konsumsi rumah tangga,” papar Ebok.
Sikap komitmen dan ulet semakin terlihat dalam diri Ebok dengan sistem yang dibangunnya dalam mengumpulkan jelantah.
Ebok membuka sistem penjemputan dan harga yang kompetitif sesuai dengan banyaknya minyak yang dikumpulkan.
Misalnya, untuk minyak dengan jumlah 1 hingga 50 kg dibeli dengan harga Rp5 ribu.
Sementara untuk yang jumlahnya di atas 100 kg dibanderol Rp6 ribu. Tapi jika di atas 200 liter harga maksimal Rp6.800 per kg.
“Kenapa saya berani di harga maksimal Rp6.800, pertama karena ternyata minyak jelantah saat ini jadi peluang usaha baru bagi sebagian orang, otomatis minyak jelantah ini juga jadi buruan pengumpul. Sehingga harga yang ditawarkan minimal tidak jauh dari harga yang biasa ditawarkan pengumpul. Kedua, karena saya masih bisa menerima harga lebih dari pembelian, yakni pengumpulan lebih dari 200 kg diberikan harga Rp 7000 dan di atas 300 kg di harga Rp8.000 per liternya,” tutur Ebok.
Meskipun tugas di Kota Cilegon, Ebok mensosialisasikan pengelolaan jelantah itu tak hanya di Kota Cilegon, tapi juga di Kota Serang dan Kabupaten Serang.
Ebok mengaku senang mengikuti program tersebut karena bsa ikut berpartisipasi mengajak orang agar tidak membuang minyak jelantah dan mengelolanya sehingga bisa menghasilkan uang.
“Saya merasa dengan mengikuti program ini bisa berdampak lebih bagi keluarga, orang terdekat, dan masyarakat yang ada di sekitar saya,” tuturnya.
Editor: Bayu Mulyana











